• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • Membentuk Generasi yang Mandiri

    Membentuk Generasi yang Mandiri

     

     

    Oleh: @rochma_yulika

    Generasi mandiri tak bisa terwujud dengan sendirinya. Butuh kerja ekstra dari para orang tua. Sejak dini kemandirian ini perlu dilatih. Ketelatenan orang tua harus ada, bahkan kebiasaan yang kecil sekali pun harus secara rutin diajarkan dan diingatkan. 

    Kemandirian ini bukan bagaimana orang tua sukses dalam mendidiknya tapi bagaimana orang tua menyiapkan kesuksesan anaknya. Banyak tugas di rumah yang bisa dibebankan secara bertahap, apalagi tugasnya sendiri semisal tanggung jawab belajar atau bagaimana seorang anak menyiapkan pelajaran sendiri, mengambil makan sendiri hingga pada akhirnya berlatih memasak sendiri. Hal itu hanya salah satu contoh sikap kemandirian. Banyak yang akan kita dapati di dalam keluarga karakter yang luar biasa berkaitan dengan kemandirian.

    Ayah bunda akan bertanya bagaimana menjadikan anak mandiri. Mari kita berbincang tentang apa yang bisa dipersiapkan untuk ananda. 

    1. Mengajarkan sikap tanggung jawab sejak dini. Sejak dini ini bisa sedari ananda kecil. Misal sedang bermain, meskipun orang tua yang melakukan untuk membantu merapikan tapi hal itu dimaksudkan untuk mendidik, membimbing dan memberi contoh. Sedari bayi bisa kita lakukan hal seperti itu.

    Ketika bertambah besar dan mulai paham, coba untuk meminta anak merapikan mainan miliknya sendiri. Setelah selesai bermain dengan mainannya, ajak anak merapikan mainannya.

    Tidak perlu meminta anak untuk merapikan seluruh mainannya tanpa bantuan orang lain. Namun, orang dapat meminta berbagi barang mana yang akan dirapikan oleh ananda. Hal ini bisa kita lakukan secara bertahap seiring dengan bertambah usianya. 

    Dan ketika usia bertambah tentu bertambah pula pemahamannya. Mulai ada suasana dialogis antara orang tua dengan ananda. 
    Contoh saja di usia balita sudah diajarkan untuk membawa barangnya sendiri. Kadang akan ada masa mengeluh, tugas kita memotivasi terus untuk pantang menyerah. Agar terus termotivasi harus banyak pilihan kata yang disampaikan orang tua serta alasan mengapa hal itu harus dilakukan.

    2. Mendidik serta membimbing anak membuat keputusan sendiri serta berani mengeluarkan pendapat. Sejak bayi banyak sekali pilihan-pilihan yang akan dijalani tergantu pada orang tuanya. Contoh saja warna baju, model baju, apa yang dimakan semua orang tua yang memilih. Tahapan seorang anak menentukan pilihannya sendiri mulai dari bertanya apakah mau yang ini atau memilih yang itu. Dalam hal pakaian dan lain sebagainya tapi orang tua tetap mengarahkan pada pilihan yang sesuai dengan tuntunan agama.

    Selain itu juga memilih sekolah, atau punya ide yang harus diutarakan. Maka kita sebagai orang tua harus memberi ruang untuk berpendapat. Orang tua harus menghilangkan sikap otoriter dalam pengambilan keputusan dalam berkegiatan di keluarga. Iklim-iklim dialogis diusahakan untuk dibangun sehingga kemajuan untuk berpikir logis pada anak akan terwujud. 

    3. Menjadikan anak percaya dengan kemampuan yang dimiliki. Setiap anak dikaruniai potensi oleh Allah SWT. Dan potensi yang dimiliki antara anak yang satu dengan yang lain berbeda. Jika kita belajar atau memahami tentang muliple intelegent akan semakin paham dengan kondisi masing-masing anak kita. Perbedaan yang ada justru membuat kita belajar bagaimana harus menyikapinya. Jangan sampai menyudutkan anak yang satu dan mengunggulkan anak yang lain.

    Ada anak kita yang suka berhitung. Setiap ujian mempunyai nilai 100. Bagi sebagian orang memberikan pendapat bahwa anak yang pintar adalah anak yang jago berhitung. Itu penilaian yang salah sama sekali. Melihat perbedaan kemampuan anak, tugas orang tua lah yang harus membuatnya yakin. Bahwa kesuksesan itu tidak hanya karena hebat dalam pelajaran berhitung. Ada kemampuan bahasa yang bisa diasah, kemampuan sosial yang menjadikannya mudah bergaul, dan masih banyak lagi aspek kecerdasan anak yang akan mengantarkannya menuju sukses. 

    Maka membangun kepercayaan diri dengan bermodal potensi yang dimiliki harus kita lakukan. Kita perlu ajak anak keluar berkenalan dengan banyak orang. Kita bisa bekerja sama dengan orang lain untuk menguji kemampuan anak kita serta tak lupa memberikan pujian sebagai bentuk penghargaan untuk ananda. Reward lain juga bisa karena dari penghargaan akan memacu rasa percaya dirinya. 

    4. Melakukan hal-hal sederhana yang bisa dilakukan dalam kegiatan sehari-harinya. Dari tugas-tugas yang kecil membuatnya merasa mampu melakukan suatu hal yang membuatnya merasa bangga.  Juga mendorong buah hati mau melakukan hal-hal sederhana yang akan menjadikan anak mandiri secara perlahan.

    Memberi kesempatan untuk kegiatan di rumah seperti memasak makanan. Dari makanan yang mudah dibuat. Kadang kita dapati anak kita penasaran ingin membantu yang dilakukan oleh orang tuanya. Bahkan ingin mencoba apa yang sudah dilakukan oleh orang tuanya. Tugas kita mempersilakan dengan memberikan arahan ketika memang berkeinginan memasak sesuatu. Seperti memberi nasihat untuk berhati-hati ketika menyalakan kompor dan lain sebagainya. Al hasil mereka akan bisa melakukan apa yang dibutukan saat ayah bundanya sedang sibuk. 

    Untuk itu agar orang tua bisa membantu anak mandiri sejak dini, maka harus memberikan pujian terhadap hal yang mereka lakukan. Apabila ada hasil yang tak sesuai harapan, puji usahanya untuk menjadi mandiri dengan memberikan motivasi untuk maju dan belajar.

    Ketika harus mendidik kemandirian kita bisa lakukan melalui aktivitas sehari-hari, dan jangan lupa untuk menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan.

    Kesimpulannya, bahwa kemandirian adalah hal yang harus dipahami oleh anak. Karena itu, sangat penting. Alhasil, anak akan tumbuh menjadi generasi maju, berprestasi yang mandiri dan kuat.

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks