• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • Memantaskan diri, Bermimpi tinggi dan mendekat pada ilahi rabbi

    Memantaskan diri, Bermimpi tinggi dan mendekat pada ilahi rabbi

     

    Oleh Kholidah

     

    Rasulllah bersabda

    ‎مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

    Barang siapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allāh memudahkan untuknya jalan menuju Surga.

    Apakah setiap yang belajar itu akan mendapatkan Syurga?? Tidak

    Lalu siapa orang yang dimudahkan mendapatkan syurga??

    Yaitu hanya mereka yang betah ketika belajar mencari ilmu diatas keselamatan

    Menurut Ali bin Abi Thalib Ra ada tiga golongan manusia dalam beribadah untuk mencapai derajat takwa. Berikut ini golongan manusia menurut Ali bin Abi Thalib:

    1. Alim Rabbani (ulama)

    Kategori pertama adalah عالم رباني seorang yang berilmu, mengajarkan, mendakwahkan dan menyebarkan ilmunya. Karena seorang alim rabbani adalah sebagaimana yang diterangkan oleh imam Mujahid rahimahullah ta’ala,

    الرباني الذي يربي الناس بصغار العلم قبل كباره

    ”Ar Rabbani adalah seorang yang mengajari manusia hal-hal yang mendasar sebelum mengajari mereka dengan berbagai hal yang rumit.” (Tafsir Al Qurthubi 4/119).

    Jadi seorang rabbani adalah seorang yang mengajarkan ilmunya. Maka dialah seorang yang selayaknya kita ikuti. Dialah seorang yang berilmu dengan ilmu  yang benar yaitu yang berupa Al Qur-an dan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena ilmu adalah sebagaimana yang dikatakan oleh imam Asy Syafi’i rahimahullah

    كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مُشْغِلَةٌ    إِلاَّ الْحَدِيْثَ وَ عِلْمَ الْفِقْهِ قِي الدِّيْنِ

    اَلْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا       وَ مَا سِوَى ذَاكَ وَسْوَسُ الشَّيَاطِيْنَ

    Setiap ilmu selain Al Qur-an akan menyibukkan, kecuali ilmu hadits dan fiqih

    Ilmu adalah sesuatu yang di dalamnya terdapat ungkapan ‘Haddatsana’ (yaitu ilmu yang berdasar kepada wahyu)

    Adapun ilmu selainnya, hal itu hanyalah bisikan syaithan semata (Diwan al Imam asy Syafi’i, Dar al Kutub al ’Ilmiyah).

     

    Yang perlu diingat oleh kita adalah ilmu yang kita ketahui dan ajarkan selamanya tidak akan bermanfaat hingga kita  mengamalkannya

     

    2. Penuntut Ilmu

    Jika kita bukan termasuk kategori yang pertama, maka hendaknya kita menjadi orang yang termasuk dalam kategori kedua, kategori yang beliau katakan sebagai متعلم على سبيل نجاة yaitu seorang yang mau belajar dan orang inilah orang yang berada di atas jalan keselamatan, karena sesungguhnya seorang yang terus mau belajar adalah orang yang sedang meniti jalan menuju surga sebagaimana yang disabdakan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    Bagi para penuntut ilmu agama yang memiliki niat yang benar dan mengamalkan dialah yang dimaksud oleh Amirul Mukminin Ra. 

    "Jadilah seperti bunga yang memberikan keharuman bahkan kepada tangan yang telah merusaknya"

    _Ali bin Abi Thalib_

     

    3. Orang Awam

    “Dan orang awam yang mengikuti setiap orang yang berteriak, mereka condong sesuai dengan arah angin (kemanapun diarahkan), tidak menerangi diri dengan cahaya ilmu, dan tidak berpegangan dengan pegangan yang kuat.”

    Artinya, siapa saja yang memberikan komentar kepadanya, maka dia akan mengikutinya tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Orang ini tidak memiliki pendirian, ketegasan sikap karena ia tidak memiliki ilmu. Maka dia adalah seorang yang bingung.

    orang ini seperti pohon yang mengikuti kemana arah angin bertiup. Itulah orang-orang yang tidak menjalani kehidupannya dengan cahaya ilmu, dengan cahaya firman Allah dan sabda rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang ini adalah orang yang tidak berada dalam posisi yang kokoh dan kuat sehingga ia adalah seorang yang cepat berubah dan tidak memiliki pendirian. Orang yang mengikuti apa saja yang dikatakan oleh orang yang berada di sebelah kanan dan kirinya. Maka boleh jadi dan bisa jadi dia celaka dikarenakan hal tersebut.

    Persis seperti kejadian yang terjadi di masa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada seorang yang terlempar dari untanya, maka kepalanya pun terluka. Namun pada malam hari, dia bermimpi sehingga dia memasuki pagi hari dalam kondisi junub. Akan tetapi ia tidak tahu bagaimana bersikap dikarenakan minimnya ilmu yang dia miliki. Akhirnya dia pun bertanya kepada orang yang berada di sampng kanan dan di samping kirinya. Apakah ia harus mandi untuk bersuci atau dia diperbolehkan bertayammum karena kepalanya terluka.

    Ternyata dia bertanya kepada orang yang salah, sehingga dia memperoleh jawaban yang salah. Pihak yang ditanyai menyarankan bahwa dia tetap harus mandi karena tidak ada rukhshah (dispensasi) bagi dirinya. Akhirnya orang ini pun mandi, dan ia pun meninggal. Karena ketidaktahuannya tentang suatu hal yang mendasar bagi seorang muslim, yaitu bagaimana cara seorang muslim harus bersuci, kapan dia harus mandi dan bertayammum, akhirnya … keadaan naas pun menimpanya

    Demikian pula, seorang yang tidak menuntut ilmu agama pada hakekatnya dia bagaikan jasad yang tidak bernyawa. Hal ini dikarenakan ilmu agama adalah nutrisi bagi hati yang menentukan keberlangsungan hidup hati seorang. Seorang yang tidak memahami agamanya, dia layaknya sebuah mayat meski jasadnya hidup. Tidak heran jika al Imam asy Syafi’i rahimahullah sampai mengatakan,

     

    مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً          تَجَرَّعَ ذُلُّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ

    وَ مَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ         فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ

    Barangsiapa yang tidak pernah mencicipi pahitnya belajar

    Maka dia akan meneguk hinanya kebodohan di sepanjang hidupnya

    Barangsiapa yang tidak menuntut ilmu di masa muda

    Maka bertakbirlah empat kali, karena sungguh dirinya telah wafat (Diwan al Imam asy Syafi’i, Dar al Kutub al ’Ilmiyah).

     

    Keadaan mereka seperti yang beliau sifatkan, hamajun ri’aa (orang dungu), mengikuti setiap orang yang berteriak. Artinya setiap ada yang datang mengajak kepada sesuatu maka dia mengikutinya, tidak mempertimbangkan baik buruknya dan benar salahnya.

    Setelah menyebutkan keadaan golongan ketiga, beliau menyebutkan dua sebab kenapa mereka menjadi demikian?

    • Karena tidak berusaha menyinari hatinya dengan cahaya ilmu, malah menyukai kejahilan atau asyik dengan kebodohannya. Akibatnya menjadi orang yang tidak memiliki pendirian. Berbeda dengan orang yang memiliki ilmu, dimana ia berjalan bersamanya ilmu yang ia miliki. Allah Swt berfirman:

    أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَٰهُ وَجَعَلْنَا لَهُۥ نُورًا يَمْشِى بِهِۦ فِى ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَٰفِرِينَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

    “Apakah orang yang dulunya mati (hatinya) kemudian Kami hidupkan, dan Kami berikan kepadanya cahaya (ilmu dan hidayah) yang dia berjalan dengan cahaya tersebut ditengah-tengah manusia, apakah sama dia dengan orang yang berada di dalam kegelapan-kegelapan (kesesatan) yang dia tidak bisa keluar darinya.” (QS. Al-An’am: 122)

    • Karena tidak mau bertanya kepada orang berilmu, sehingga tersesat karena dirinya sendiri. Mereka tidak memiliki pegangan kuat karena selalu terombang-ambing dan tidak berpendirian.
    • Meski jumlahnya paling banyak, mereka adalah golongan yang paling rendah derajatnya disisi Allah. Bahkan kalau diperhatikan, tidaklah terjadi fitnah dan kekacauan di sebuah negeri kecuali berasal dari golongan yang ketiga ini.

    Ini adalah golongan ketiga, yaitu golongan orang awam, mereka bukan orang alim, atau orang yang berusaha untuk menjadi orang alim..

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks