• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • Menjadi Orang Tua yang Selalu Dirindukan Hadirnya

    Menjadi Orang Tua yang Selalu Dirindukan Hadirnya

     


    Oleh: @rochma_yulika

    Zaman telah berubah. Godaan hidup manusia semakin meranah. Derasnya perkembangan teknologi membuat kehidupan manusia mengalami banyak perubahan. Kemudahan bisa didapatkan tetapi ada tantangan bagi orang tua dalam mendidik generasi menjadi yang terbaik. 

    Waktu begitu cepat bergerak. Mungkin baru saja kita nikmati udara sejuk pagi hari tak lama kemudian segera kita bergegas untuk pergi. Banyak orang tua yang menjalani hidup hanya sekedar rutinitas. Bahkan ada pula yang mengisi waktu keseharian kosong tak bermakna. 

    Kegiatan seperti itu banyak kita dapati dalam keluarga di sekitar kita. Pagi hari dikejar waktu untuk segera menunaikan tugas dan sore hari pulang membawa segudang kelelahan dan tumpukan tugas yang memberatkan. Sehingga banyak diantara kita yang tak sempat bercengkerama dengan keluarga bahkan lebih memilih bercengkerama dengan fasilitas digital yang dipunya. 

    Mari menilik kenyataan hidup kita masing-masing. Apakah kita punya Quality Time dengan keluarga? Apakah ada ruang untuk mendengarkan anak kita bercerita? Dan apakah mereka senantiasa merindukan hadirnya kita?

    Butuh evaluasi kala mendapati anak lebih suka berbincang dengan temannya dari pada orang tua mereka. Harus mengubah sikap agar anak menjadikan orang tua sebagai muara atas masalah hidupnya. Mari sama-sama kita belajar mengubah hal yang sekiranya kurang baik menjadi lebih baik.

    Alih-alih teknologi membuat anak kita terasa lebih dekat dengan sarana digital. Bukan hanya bagaimana mereka tak dekat dengan orang tua lebih dari itu akan menjadikan anak kita kecanduan. Perubahan sikap nampak dari perilaku keseharian mereka. Belum lagi minat belajar dan membaca pun semakin menurun. Maka kita butuh memberikan perhatian khusus kepada mereka. 

    Apa saja yang kita harus lakukan

    1. Orang tua perlu membuka diri (open mind) dan mau terus belajar mengikuti perubahan zaman. Menjadi orang tua yang mau membuka diri dan terus belajar sangat dibutuhkan. Ilmu itu berkembang. Apa yang dulu pernah diterapkan oleh orang tua kita dan berhasil belum tentu sama dengan masa sekarang. Orang tua pun siap menerima masukan atau saran untuk perbaikan dirinya agar membantu untuk mendidik anak-anak kita. 

    2. Kemampuan orang tua untuk menjaga interaksi dan komunikasi langsung dengan keluarga harus dijaga. Ada waktu yang asasi dalam kebersamaan. Wakti makan, membelajari anak, bahkan bercengkerama dengan mereka pun harus punya waktu. Apalagi yang punya waktu sedikit maka harus lebih optimal dalam memanfaatkan kesempatan.
     
    3. Kuatkan Perhatian Orang Tua Terhadap Anak; sebagai antisipasi atas Akibat libungnya Persaingan kerja. Mungkin saja dari keadaab ekonomi yang semakin sulit akan terdampak ada tingkat kelelahan juga stress pada diri orang tua. Maka jangan sampai kondisi ini berimbas secara masif kepada keluarga dan anak. Butuh manajemen diri dan pengaturan waktu agar hak keluarga anak terpenuhi.

    4. Yang lebih penting dari semua itu adalah bekali dengan ketaqwaan, jadikan takut pada neraka menjadi visi keluarga, dan kumpul bersama keluarga di surga menjadi tujuannya. Rasa takut untuk meninggalkan generasi yang lemah dan tak beriman harus menjadi kekhawatiran maka sebagai orang tua harus menjaga kekuatan maknawiyah sehingga anak kita akan terjaga seiring dengan penjagaan kita terhadap kedekatan dengan Allah.

    5. Gerakan Kembali ke meja makan dan kebersamaan. Kumpul di meja makan menjadi jarang karena rutinitas yang berbeda. Tak jarang kebersamaan ini terlewatkan. Padahal saat makan bersama atau berkumpul dalam keadaab santai adalah saat yang tepat untuk memberikan nasihat atau berdiskusi tentang banyak hal terutama berkaitan dengan ajaran agama ini. Bagus juga jika anak masih kecil dibacakan buku karena kebiasaan baik ini harus ditanamkan sejak kecil.

    6. Jadilah orang tua idola dan keteladanan. Keteladanan kunci utama dalam mendidik anak kita. Keshalihan orang tua punya pengaruh lebih terhadap perkembangan akhlak anak-anaknya. Anak itu memotret orang tuanya. Terkadang bisa menjadi inspirasi bahkan apa yang sudah dijalani orang tua bisa ditiru oleh anaknya. Jika keberadaan orang tua sudah diidolakan anak maka sangatlah mudah untuk mendapat balasan kasih sayang dari anak dan tentu akan dirindukan oleh mereka. Begitu juga kebiasan menjaga amal ibadah dan beramaliyah orang tua pun akan dijadikan dasar anak untuk menjalankan agama secara benar dan optimal.

    7. Do'akan selalu keluarga kita. mendoakan anak-anak untuk komitmen pada perkara-perkara asasi, seperti tauhid dan shalat. Demikianlah yang diteladankan Nabiyullah Ibrahim Alayhissalam.

    رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ ٤٠

    “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]: 40).

    Doakan anak kita agar menjadi generasi mulia. Setiap saat lantunkan doa penuh pengharapan agar terwujud menjadi kenyataan. Perbanyak istighfar dan kalimat thayibah yang lainnya untuk mengiringi doa yang terucap sehingga Allah ridla atas segala yang diinginkan hamba Nya. Begitu juga doa itulah pengikat hati dan doa itu yang mendekatkan bila berjauhan dan yang merekatkan bila ada kerengganan. 

    Dan kita bisa meneladani beberapa kisah dalam Al Qur'an.

    Pertama, mendengar dengan sangat antusias dan merespon dengan penuh kesungguhan. Keteladanan seperti itu diberikan oleh Nabi Ya’kub terhadap putranya Nabi Yusuf Alayhimassalam.

    إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَباً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

    “(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf [12]: 4).

    Mendengar ucapan putranya yang sesungguhnya cukup belia itu, beliau merespon dengan sangat serius.

    قَالَ يَا بُنَيَّ لاَ تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيْداً إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإِنسَانِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

    “Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Yusuf [12]: 5).

    Kalau kita dalami, dari dialog inilah sebenarnya kisah mengagumkan Nabi Yusuf Alayhissalam dimulai. Ya, dari sebuah dialog yang menunjukkan perhatian dan antusisasme seorang ayah terhadap ucapan anaknya.

    Pelajaran yang bisa kita petik di antaranya adalah untuk membuat anak mendengar kemudian yakin dengan nasehat orang tuanya, maka hal utama yang mesti dilakukan oleh orang tua adalah bersungguh-sungguh mendengarkan ucapan, ungkapan, kisah, atau pun keluhan anak-anaknya. Apalagi ketika anak sudah menginjak usia remaja. Yang apabila orang tua gagal menjadi “pendengar yang baik” mereka akan berkeluh kesah di media sosial.

    Kedua, terus-menerus menanamkan tauhid kepada anak. Hal inilah yang dicontohkan oleh Luqman Al-Hakim.

    Dimulai ajaran agar anak tidak mensekutukan Allah, kemudian pemantaban keyakinan bahwa segala amal perbuatan pasti akan dibalas oleh Allah, meski amal perbuatan itu seberat biji sawi dalam bentuk kebaikan atau pun keburukan, semua Allah hitung dan akan diberikan balasan.

    Selanjutnya, Luqman Al-Hakim menekankan pentingnya mendirikan shalat sepanjang hidup dan amar ma’ruf nahyi munkar dan bersabar atas apa yang menimpa diri. Jangan menjadi pribadi sombong dan berlemah lembutlah dalam berbicara. Demikianlah perkara penting yang diteladankan Luqman Al-Hakim yang termaktub di dalam Al-Quran dari ayat ke 13 hingga ayat ke 19.

    Ketiga, mendoakan anak-anak untuk komitmen pada perkara-perkara asasi, seperti tauhid dan shalat. Demikianlah yang diteladankan Nabiyullah Ibrahim Alayhissalam.

    رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ ٤٠

    “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]: 40).

    Keempat, terus memastikan tauhid anak-anak, meskipun mereka sudah dewasa, berkeluarga dan memiliki keturunan. Demikianlah yang diteladankan oleh Nabiyullah Ya’qub Alayhissalam.

    أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

    “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah (2): 133).

    Pertanyaan Nabi Ya’qub tersebut menunjukkan bahwa komitmen dalam tauhid itu tidak mudah, mesti terus diawasi. Setidaknya, jangan sampai dalam hal mencari rizki anak-anak kita menerabas ketentuan syariat, meninggalkan shalat, menghalalkan segala cara yang pada akhirnya merusak aqidah dan ketauhidan mereka kepada Allah Ta’ala, sehingga yang sejatinya disembah bukan lagi Allah Ta’ala, tetapi kedudukan dan kekayaan.

    Demikianlah Al-Qur’an memaparkan tentang bagaimana orang tua mendidik putra-putrinya. Dengan kata lain, seperti itulah Al-Qur’an mengidamkan setiap orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Mungkin tidak mudah, tetapi di situlah hikmah perintah mujahadah yang jika terus diupayakan akan berbuah jannah. Wallahu a’lam.*

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks