• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • Hafidzah kecil bak An Najm

    Hafidzah kecil bak An Najm

    Fiki Muzakki

     

    Kala itu terik matahari tak henti hentinya membakar kulit dan semua penghuni sekolah. Suasana gerah membuat keringat perlahan membasahi seragam anak itu. Tepat pada waktu sholat dhuhur, aku bertemu dengan hafidzah kecil itu usai dari kegiatan shalat berjamaah di GOR. Dengan ciri khas kacamata yang tak pernah lepas dari depan matanya disertai dengan mata pandanya. Bukan hal yang lumrah jika para guru tidak mengenal anak ini, namanya tergaungkan dengan posisi ke dua hafalan terbanyak di sekolah itu.

                Seperti biasa sebagaimana akhlak yang seringkali diajarkan di sekolah, menyapa guru menjadi sebuah kebiasaan. Sebenarnya sapaan kali ini banyak mengandung deep talking dan lebih mirip dengan menginterogasi hafidzah itu. Berbincang dengannya di sudut ruang yang sepi dan pintu kelas tertutup, diskusi yang menyangkut banyak hal, meluruskan konsep dan meluruhkan ego. Laranya yang lama menunggu pintu keluar, gelap dan usang. Penghujung waktu dengan berbagai narasi yang kemudian menjawab “alasan kenapa aku begini”.

    Sebuah penggalian dibalik topeng curhat yang dibumbui dengan isak tangis dalam. Banyak penyesalan yang dirasa olehnya, namun terselip senyum indah di akhir ucap olehku. 

    “Mbak, menghafal itu harus bahagia dulu, senang dulu dengan apa yang kamu hafal, tidak ada yang sia-sia dari memilih antara hafalannya yang banyak atau sedikit tapi mutqin. Semua perlu seimbang, hanya saja tingkat kesulitannya ada pada menjaga Al Qur’an alias murojaah (mencoba menenangkannya agar ia tidak merasa bersalah karena lebih sering menambah hafalan dibanding murojaah), coba dari banyaknya juz yang dihafal, surat apa yang paling bikin kamu bahagia?”.

    “Aku suka an najm, pas lagi sedih tapi dipaksa menghafal terus aku kaya dihibur gitu us sama banyak arti dari setiap ayatnya. Trus aku coba keluar rumah dan lihat langit. Trus beneran Allah hibur aku dengan ngliatin banyak bintang di langit, aku jadi tenang dan akhirnya aku nambah hafalanku di luar rumah sambil lihat bintang, eh…ngga kerasa udah habis satu halaman.” Ucapnya dengan binar matanya.

    Mendengarkan kesahnya, banyak harapan yang perlu tersemai. Tidak hanya itu, guru satu ini pun mengambil banyak hikmah dan sela untuk introspeksi diri dari kisahnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa guru ini juga sebenarnya sedang menjadi murid dari hafidzah kecil ini. Perjalanan menghafal dan jalan yang ia pilih dalam menuntut ilmu bagaikan Syi’ra. Ya… bintang Syi’ra yang sangat spesial dan Allah sebutkan hanya satu kali dalam Al Qur’an yakni dalam surat An Najm. Terlepas dari asbabun nuzulnya, Ahmad Mustafa al-Maraghi seorang mufassir kontemporer juga menjelaskan bahwa bintang Syi’ra adalah bintang yang memiliki sinar terang, yang terbit setelah bintang Jauza’ pada musim yang sangat panas. Cahayanya yang sangat terang dibandingkan dengan benda langit lainnya menjadikan hafidzah ini sepertinya. Terpaan rasa malas, sedih, senang dan liberosis menjadikan ia tetap menggandeng Al Qur’annya. Dengan itu, ia merasa sapaan saat itu telah merubahnya dari resah menjadi pulih.

     

     

     

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks