• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • SIT, SOLUSI  PARADIGMATIK    PENDIDIKAN  ISLAM:Latar Pemikiran Berdirinya Sekolah Islam Terpadu.

    SIT, SOLUSI PARADIGMATIK PENDIDIKAN ISLAM:Latar Pemikiran Berdirinya Sekolah Islam Terpadu.

     

     Keempat. Sekularisasi.

    ( Bagian Ketiga)

    Drs. Ery Masruri

     

     

    Sekularisme yang kebetulan datang berbarengan dengan arus perkembangan sains dan tekhnologi, telah mendikotomikkan pendidikan menjadi ‘Pendidikan Agama’ dan ‘Pendidikan Umum’. Sementara respon (perlawanan) tak sempurna pendidikan Islam terhadapnya, justru telah menimbulkan persoalan baru dengan munculnya ‘subhat pendidikan’. Dimana sekulairisme dan Islam bersenyawa dalam sebuah lembaga. Akibatnya, Pendidikan Islam secara paradigmatik, terpola dalam empat perwajahan, sebagai berikut :

    Pertama. Sekulair Qauliy.

    Sekulair,menurut Naquib Alatas berakar kata latin 'Saeculum' yang mempunyai arti dengan dua konotasi; waktu dan lokasi. Dimana waktu menunjuk pada pengertian kini atau sekarang. Dan lokasi menunjuk kepada dunia atau duniawi.Jadi saeculum berarti zaman kini atau masa kini, dan sekulair berarti terlepasnya dunia dari makna - makna religiusnya.

    Tetapi dalam hal ini kita juga dapat memaknai secara terbalik, kepada yang tertinggal (dunia) dan yang terlepaskan (religiusitasnya). Sehingga sekulair juga berarti  terpisahnya religiusitas dari realitas dunia.Dengan kerangka pemahaman demikian, jika ditinjau dari keadaan yang tertinggal atau terperhatikan, sekulair dapat dibedakan menjadi dua; Sekulair Qouliy dan Sekulair Kauniy.

    Sekulair Qouliy, Pemahaman ini lenih fokus pada aspek qouliyah dan mengesampingkan aspek Kauniyah (hukum alam). Institusi dengan pemahan  Sekulair Qouliy hanya melakukan kajian qouliyah dan cabangnya (religiusitas), tanpa ada upaya pengejawantahan kedalam realitas sosio kulturalnya, baik konseptual maupun pragmatis. Ciri Instituisi seperti ini (sekuler qouliy), biasanya sangat menjaga kemurnian garis  pemahamannya. Sehingga proses pengajaranpun dipola doktriner otoriter. Dan sedikit sekali mengembangkan tafsir konteporer yang relefan dengan masa dan lingkungannya. Akibatnya, output yang dihasilkan cenderung bersifat fatalis, jumud dan fanatik. Secara fisikaly tidak siap berkompetisi dalam kehidupan, karena memang tidak disiapkan untuk itu.

    Tiga potensi negatif yang mungkin muncul, ketika mereka (out put) berhadapan dengan realitas sosio kultural baru adalah;

    1. Bersikap inkonsisten, karena tidak mampu mengembangkan/ mengimplementasikan ilmunya ketika berhadapan dengan realitas baru, padahal kehidupan selalu berubah. Sehingga ketika realitas mendukung keyakinan/ilmunya, dia pakai. Kalau tidak sesuai, langsung ditinggalkan,  tanpa ada sikap pemakluman terhadap orang yang meyakini/menjalankannya.
    2. Tetap teguh pada garis keilmuannya (pemahamannya) walaupun harus menghadapi tekanan dunia (materi), karena tekanan  dunia mampu diatasi dengan ketahanan religiusnya (kepasrahannya). Secara indifidual hal ini tidak bermasalah.Tetapi secara komunal (jamai) tidak cukup energi untuk membuat perubahan . Sehingga tidak bisa diharapkan untuk ikut berperan secara signifikan dalam membangun peradaban.
    3. Mengalami Schok culture. Merasa paham lamanya sangat membelenggu, karena sudah tidak relevan lagi dengan realitas baru . Sehingga secara fatal menanggalkan semuanya,atau membuat tafsir baru yang sama sekali bertentangan dengan pemahaman lamanya.

     

    Kedua. Sekular Qauniy.

    Berlawanan dengan Sekular Qauliy, institusi ini hanya menfokuskan kajiannya pada persoalan duniawi (qauniy). Kajian nilai - nilai religius, hanya dihadirkan sebagai ‘kepantasan sosial’ saja, karena basic kultural peserta didiknya yang religius. Atau karena keberadaannya di tengah komunitas religius. Dalam perspektif ini, dunia betul - betul hanya  dilihat sebagai realitas ansich, yang harus diambil manfaatnya (dieksploitasi) demi kenikmatan hidup manusia. Oleh karenanya, ketrampilan fisikaly dan kecerdasan akal, menjadi target utama dari proses pembelajarannya. Sementara aspek moralitas,diserahkan sepenuhnya kepada keluarga dan lembaga keagamaan. Dengan demikian, output yang dihasilkan cenderung berkarakter materialistik, ambisius.Secara fisikaly relatif siap berkompetisi dalam kehidupan, tetapi secara normatif sangat longgar bahkan permisif. Dengan karakter seperti ini,  kecerdasan dan ketrampilannya justru berpotensi besar menimbulkan masalah sosial (merusak peradaban).  Dalam konteks inilah, Eliot (seorang filsuf barat) menyindir peradaban bangsanya, “kenapa dalam abad keemasan dunia sains dan tekhnologi justru aku dapatkan fakta yang paling tragis, yakni hilangnya martabat kemanusiaan ?.

     

    Ketiga. Labeling.

    Model labeling, merupakan bentuk perlawanan tak sempurna dari fanatisme Islam terhadap Sekularisme. Realitas obyektif kemajuan sains dan tekhnologi, yang kebetulan datang beriringan dengan sekularisasi,  sistem pencapaiannya  diadopsi penuh (tanpa koreksi)  dengan tetap mempertahankan basis religiusnya. Langkah pragmatis yang kemudian diambil adalah dengan mempersandingkan dua kutub sekularisme : dunia, yang dimaknai sebagai modernitas, dan nilai  religius yang dimaknai sebagai moral agama. Dengan kerangka pemahaman seperti ini, maka  institusi model labelling dapat kita bedakan menjadi dua;  Religius Labeling dan Modern Labeling.

    1. Religius Labelling, menjadikan modernitas (program formal sekulair) sebagai basis kajian (reguler)nya, tetapi secara formal tetap melabelkan Islam sebagai identitas lembaga. Nilai religius, dihadirkan sebagai wacana terpisah,yang dalam proses belajar mengajarnya tidak ada target atitude bagi peserta didik. Sedang kulturasinya dibangun secara formal seperti simbol simbol, peraturan, seragam, asesoris, penamaan ruang dsb. Oleh karennya, karakter religius outputnya cenderung bersifat semu (hipokrit). Secara prinsipal,  tidak berbeda dengan output Sekulair qauniy.
    2. Moderen Labeling. Berseberangan dengan Religius Labelling, institusi ini berbasis Religius, tetapi dalam pengembangannya  mengadopsi system pendidikan sekulair secara utuh. Dimana modernitas dilabelkan dengan cara menghadirkan program kajian sekular secara penuh (tanpakoreksi) dan mandiri sebagai sebuah institusi {institusi sekular di dalam instutitusi religius ).Dengan demikian, maka secara epitimologik, tidak ada  koreksi konseptual sistem by sistem.Yang ada hanyalah perimbangan kultrural dari basis religiusnya, yang bersifat parsial defensif. Potensial negatif  akan muncul, ketika outputnya masuk kedalam komunitas insklusif (masyarakat). Dimana pemahaman sekular yang tertekan (tidak terkoreksi)  bersenyawa dengan realitas sekulair yang sesungguhnya. Dalam kondisi ini, karakter out putnyapun  menjadi  dominan sekulair.

    (bersambung).

     

    Drs. Ery Masruri. Pengurus Konsorsiom Yayasan Mulia.

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks