• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • Merindukan Surga di Madrasah  Ramadhan

    Merindukan Surga di Madrasah Ramadhan

     

    Oleh: @rochma_yulika

     

    Siapa diantara kita yang tak merindu surga? Tak ada seorang pun manusia yang ingin masuk neraka. Bayangan surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya membuat setiap kita berpikir untuk selamanya tinggal di sana setelah kematiannya. Orang yang baik dan buruk menginginkan surga. Orang yang shalih atau pun orang yang salah juga demikian. Orang yang taat dan bermaksiat, orang yang beriman dan tak beriman semua berharap surga indah di persinggahan terakhirnya.

    Jika kita membaca petunjuk dalam Al Qur'an maka kita akan tahu bahwa orang yang masuk surga adalah mereka yang beriman dan beramal shalih. Mereka adalah orang yang selalu rukuk dan sujud dalam kesehariannya. Lisannya selalu basah dengan dzikir serta tilawah.

    Allah telah menyiapkan ujian untuk meneguhkan kadar iman seseorang. Firman Allah dalam QS Al Ankabut ayat 2,“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?Mampu melewati ujian demi ujian itulah jalan menuju surga. Juga keshalihan demi keshalihan yang dilakukan itu pun salah satu wasilah untuk berjumpa dengan-Nya.

    Semua dijalani agar seseorang layak dirindukan oleh surga. Siapakah gerangan manusia yang dirindukan oleh surga? Ada sebuah hadist yang disampaikan oleh Rasulullah SAW bahwa ada golongan-golongan yang dirindukan surga. Diantaranya adalah orang-orang yang berpuasa Ramadhan.

    Rasulullah SAW bersabda: “Surga sangat rindu terhadap empat golongan, yaitu orang yang membaca Al-Quran, orang yang memelihara lisan, orang yang memberi makan terhadap orang-orang yang lapar serta orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan.” Orang berpuasa yang dirindukan surga tentu bukan sekadar berpuasa tanpa makan dan minum, tapi yang benar-benar bisa menahan dan mengendalikan hawa nafsunya. Menjaga tilawah Al-Qur'an, menjaga lisan, bersikap yang sopan, bersedekah kepada yang membutuhkan.  Kebaikan seperti itu wajib kita lakukan jika ingin dirindu surga. Mengapa orang yang berpuasa dengan benar akan mendapat kedudukan mulia disisi Allah, bahkan dirindukan surga? Karena orang yang berpuasa ramadhan mendapatkan pelajaran penting dalam madrasah Ramadhan.

    Apa saja madrasah Ramadhan yang akan kita dapati? Diantaranya adalah madrasah sabar.

    Pertama, sabar dalam ketaatan.  Tentunya dalam rangka taat kepada  perintah Allah. Bersegera shalat ketika adzan sudah berkumandang. Sabar ketika harus memaksakan diri menyelesaikan tilawah juz demi juz. Bersabar ketika harus menahan lapar serta dahaga. Dan masih banyak kesabaran dalam ketaatan ketika Ramadhan bisa kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Bak surga dunia semua amal ibadah begitu ringan kita jalani sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. Allah juga mengajari orang yang berpuasa taat tanpa batas, bahkan yang halal seperti makan dan minum pun kita diminta taat untuk meninggalkannya sampai waktu maghrib.

    Kedua, sabar menghindari maksiat. Dalam bulan Ramadhan kita juga ditempa untuk melakukan perbuatan jujur. Tidak berkata yang menyalahi kebenaran. Mengapa demikian? Karena Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

    Berusaha untuk tidak berbicara yang sia-sia dan yang ada hanyalah lisan yang selalu terjaga untuk mengingat Allah adalah upaya untuk menghindari maksiat. Banyak manusia berlomba untuk mendapatkan kesempurnaan puasa ramadhan dengan senantiasa mengagungkan nama-Nya dalam setiap helaan nafas kita.  Seperti halnya dalam potongan ayat 185 surat Al Baqarah: "Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."

    Ketiga, sabar ketika mendapat musibah. Pada bulan Ramadan ini kesabaran itu kita asah untuk membentuk jiwa taqwa sebagai wujud pengendalian diri kita. Musibah sebagai proses pembelajaran dari Allah swt agar manusia menjadi lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya. Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda: "Siapa saja yang dikehendaki Allah menjadi baik maka diberikan cobaan kepadanya" (HR Bukhari).

    Musibah sebagai ujian. Hal ini sebagaimana firman-Nya, "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan berbagai cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman bersamanya, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (Al Baqarah: 214)

    Disampaikan dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan, apabila kita dihina, dicaci maki orang lain, agar kita tetap bersabar, menahan diri dan menyampaikan kepada lawan bicara: ‘Saya sedang puasa.’ Sehingga lawan bicara tahu bahwa kita tidak membalas kedzalimannya bukan karena pernah atau tidak mampu, tapi karena sikap wara’ dan taqwa kepada Allah.

    Bukan hanya pada sikap tapi kesabaran menahan diri dari godaan perut juga di bawah perut. Walau makanan itu halal, begitu juga dengan pasangan yang halal pun harus menunggu waktu yang dibolehkan juga dan itu butuh kesabaran. Begitu juga ketika akan marah dengan pasangan atau anak harus punya kendali yang kuat agar sempurna puasa kita.
    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa adalah membentengi diri, maka bila salah seorang kamu di hari ia berpuasa janganlah berkata kotor dan jangan teriak-teriak, dan jika seseorang memakinya atau mengajaknya bertengkar hendaklah ia mengatakan “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari 1904 & Muslim 1151)

    Belum lagi rahasia puasa yang mempunyai kedudukan sendiri disisi Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasul SAW,“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku…”

    “Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan“. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa?” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya” (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152).

    Begitulah keutamaan orang yang berpuasa, memiliki maqom atau kedudukan tersendiri disisi Allah SWT. Orang yang berpuasa dengan benar, dengan “ imaanan wah tisaaban” akan diampuni segala dosanya yang telah lalu. Rasulullah SAW bersabda: "Man shama ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu maa taqaddama min dzanbih". (Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan berharap pahala dari Allah niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu").

    Dengan demikian wajar orang yang berpuasa dirindukan surganya Allah SWT karena mereka adalah orang-orang yang sudah diampuni dosa-dosanya dan terlatih mempunyai ahlak mulia. Mereka sudah terbiasa dengan ketaatan. Sehingga benarlah mereka menjadi orang-orang bertaqwa yakni orang-orang yang dijanjikan surga seluas langit dan bumi. Maka beruntunglah kaum muslimin yang Allah wajibkan atas mereka puasa. Dari orang iman menjadi orang bertaqwa yang akan Allah anugrahkan surga. Semoga ramadhan kita menjadi ramadhan yang dirindukan oleh surge Allah, aamiin…

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks