• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • Gagal Merencanakan Berarti Merencanakan Kegagalan

    Gagal Merencanakan Berarti Merencanakan Kegagalan

     

    Oleh: @rochma_yulika

     

    Mari kita belajar dari Rasulullah,  sahabat serta salafusshalih. Bagaimana mereka selalu berusaha menjaga dirinya untuk Allah dan menjaga Allah untuk dirinya. Jika kita telusuri lebih jauh maka amal mereka tak tertandingi. Dari tilawahnya, kekhsuyu'an shalatnya, pengorbanan membela agama Allah, terjaga di malam hari serta hati yang tak pernah kosong untuk mengingat Allah.  

    Dalam segala urusan semua terencana dengan baik di pagi hari dan dievaluasi di malam hari. Bahkan perencanaan mereka jauh ke depan, dalam jarak hitungan bulan saja sudah dirancang sehingga benar-benar menjadi optimal. Lantas, seperti apa mereka semua menghayati bulan suci Ramadhan? Bulan yang di dalamnya banyak sekali keutamaan. Begitu istimewanya Ramadhan sehingga ada harapan orang yang luar biasa dalam menyambut dan menjalani amalan yang telah disampaikan dalam risalah Nya.

    Mari kita belajar dari mereka. Dalam sebuah nasihat Al-Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan satu riwayat yang menunjukkan semangat mereka dalam menyambut ramadhan. Ibnu Rajab menyebutkan keterangan Mu’alla bin Al-Fadhl – ulama tabi’ tabiin – yang mengatakan,“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

    Sungguh malu diri ini. Bagai peribahasa saja antara kita dengan mereka. Jauh panggang dari api. Banyak hal yang tak sepadan. Jangankan enam bulan sebelumnya kita mempersiapkan, bahkan ada diantara kita yang tidak bersiap sama sekali. Baginya Ramadhan seperti bulan biasa yang beda hanya tidak boleh makan dan minum saja. Astaghfirullah. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan kepada kita untuk memantaskan diri hingga berhak menjadi kekasih Allah selayaknya mereka.

    Ya Allah, sungguh ternyata kita begitu lemah dan faqir ilmu serta tak bisa menyelami samudera risalah yang telah mengajarkan kepada kita. Jika kita bisa melakukan sama seperti para pendahulu maka sangat mungkin nuansa Ramadhan tetap bisa kita rasakan walaupun bukan bulan Ramadhan. Kita sangat berharap untuk bisa meneladani mereka yang sudah merencanakan apa yang akan dilakukan saat bulan Ramadhan sehingga kegagalan tak ada dalam diri kita. Karena gagal merencanakan sangat mungkin membuat kita seolah sedang merencanakan kegagalan.

    Maka mari kita perbanyak doa dan bertaubat memohon ampunan. Menyiapkan diri kita, hati kita dan seluruh yang ada pada kita untuk menyambut Ramadhan. Al-Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan salah satu contoh doa yang mereka lantunkan. Diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir – seorang ulama tabi’in –, bahwa beliau mengatakan,

    Diantara doa sebagian sahabat ketika datang Ramadhan, “Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

    Ya Rabb mudahkan kami.

    Sehingga bisa memantaskan diri.

    Kelak pantas menjadi penghuni Surga Firdaus yang abadi.

     

     

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks