• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • Menanamkan Cinta Allah dan Rasulullah Sejak Dini

    Menanamkan Cinta Allah dan Rasulullah Sejak Dini

    Ustadzah Ulfi Fatkhiyah Mahmud, S. Ag

    Rasa Cinta Kepada Allah

    وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (١٣)

    “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.S Luqman:13)

    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

    “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Ibnu Taimiyah berkata: "Sungguh kasihan para penduduk dunia, keluar dari dunia dan belum merasakan sesuatu yang paling nikmat dari-Nya". Ada yang bertanya, "Apa yang paling nikmat dari-Nya?" Dia menjawab: "Cinta Allah SWT".

    Pembaca yang dirahmati Allah, seperti nasihat Luqman kepada anaknya, hal dasar yang harus ditanamkan kepada anak-anak kita adalah cinta kepada Allah swt karena hal tersebut merupakan konsekuensi keimanan. Keimanan tidak dapat diwariskan begitu saja kepada anak-anak kita. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua perlu memahami berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menanamkan cinta kepada Allah sejak dini. Cara menanamkan cinta kepada Allah sejak dini diantaranya adalah sebagai berikut.

    1. Mulai dari diri kita dengan menjadikan Allah sebagai ghoyyah (tujuan) seluruh aktifitas kita.

    Kita sebagai orang tua memberikan contoh bahwa tujuan kita bekerja tidak semata hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja, tetapi memang dalam kerangka ibadah dan mencari keridhaan Allah. Jika Allah sudah ridha, maka Allah pun cinta kepada makhluk-Nya. Begitu pula kita menjelaskan kepada anak kita bahwa segala aktivitas seperti makan, tidur, silaturahmi, dan belajar pun bertujuan untuk mencari keridhaan dan cinta Allah swt.

           b. Sering menyebut Asma-Nya.

    Kita yang terbiasa untuk mengucapkan kalimah thayyibah atau kata-kata yang baik dan mengingatkan kepada Allah SWT akan mudah untuk mengajak anak berbicara baik sekaligus ingat kepada Allah. Hal ini memang tidak mudah dilakukan karena pengaruh eksternal yang luar biasa besar. Akan tetapi, kita bisa mengupayakan untuk meminimalisir pengaruh luar dengan banyak memberikan input positif untuk otak anak-anak kita.

            c. Ajari untuk memahami sifat-sifat-Nya.

    Sifat-sifat Allah yang tersurat dalam Asmaul Husna sudah selayaknya senantiasa kita ajarkan kepada anak-anak kita baik dalam situasi belajar maupun bermain. Asmaul Husna pun bisa kita selipkan dalam doa sehari-hari dan dilakukan secara bergantian dari 99 sifat yang ada. Insya Allah, sifat-sifat Allah swt akan tertanam kokoh dalam jiwa anak.

    Allaahu ma’iy..

    Allahu haafizhiy..

    Allaahu naadhirun ilayya…

            d. Ajari bersyukur.

    Sewaktu dalam kondisi gembira (otak dalam keadaan alpha) sebutlah bahwa nikmat dan rasa gembira ini datang dari Allah swt. Anak-anak yang kondisi otaknya dominan dalam keadaan alpha adalah saat terbaik untuk mengajari bersyukur kepada Allah swt. Jelilah melihat peristiwa yang bisa kita jadikan momen untuk mengajari anak bersyukur. Walaupun peristiwa tersebut kecil namun jika membekas dalam hati anak, pasti anak akan paham bahwa kita harus bersyukur kepada Allah swt.

           e. Kaitkan semua kebaikan dengan Allah swt.

    Semua kebaikan yang kita terima pada hakikatnya adalah karena Allah swt. Bagaimana cara menyampaikan hal itu kepada anak-anak kita? Ternyata, Allah harus senantiasa berada di lisan dan hati orang tua. Orang tua yang di hati dan lisannya selalu mengingat Allah dengan tulus merupakan tenaga yang amat kuat untuk menularkannya kepada anak. Anak yang sudah tertulari hal positif dari orangtuanya akan mudah mengaitkan segala apapun kepada Allah swt.

         f. Lakukan dengan dialogis untuk menumbuhkan berpikir kritis walaupun kadang-kadang juga diperlukan doktrin untuk menanamkan iman.

    Kita jangan berpikir bahwa anak-anak kita tidak bisa diajak berdialog. Semua anak bisa kita ajak diskusi dengan cara yang sesuai dengan usia mereka. Semakin anak diajak diskusi, anak akan lebih mudah menerapkan sesuatu yang disepakati bersama. Mengajak anak untuk memulai segala sesuatu dengan basmalah misalnya, akan lebih berarti jika mereka sudah memahami dengan benar mengapa mereka harus melakukan seperti itu.

     

    Rasa Cinta Kepada Rasulullah

    Inti dari rasa cinta kepada Rasulullah saw adalah menjadikan Rasulullah lebih kita cintai dari pada diri, harta dan anak-anak kita sendiri. Mencintai Rasulullah saw merupakan salah satu pondasi keislaman kita. Bahkan keimanan kepada Allah swt tidak akan sempurna kecuali dengan mencintai Rasulullah.

    Cinta Rasulullah saw sebaiknya juga kita ajari kepada anak sedini mungkin. Semakin dini akan semakin tertanam dalam diri anak. Banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mengajari anak untuk mencintai Rasulullah saw berikut diantaranya:

    1.    Menjadikan Rasulullah sebagai uswah dalam segala aspek hidup.

    "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi orang yang menghendaki Allah dan hari akhir". (QS. Al Ahzab: 21)

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

    2.    Sering bershalawat kepada Rasulullah.

    Sebelum berdoa lantunkan shalawat dengan keras sehingga anak bisa mendengar dan mengikutinya. Pada berbagai acara yang mengumandangkan shalawat, anak bisa kita ajak untuk ikut serta. Di rumah pun sering-seringlah bershalawat  misalnya saat menidurkan si kecil.

    3.    Menceritakan kisah-kisah Rasulullah.

    Kisa Rasulullah kini bisa kita dapatkan dalam berbagai media, baik itu buku, CD, VCD, atau DVD. Semua kita bisa manfaatkan agar anak bisa lebih mudah memahami kisah-kisah Rasulullah saw. Selain itu kita juga bisa menggunakan sarana-sarana yang lain seperti puzzle, permainan anak tangga anak shaleh, atau permainan kartu yang berhubungan dengan kisah nabi. Permainan seperti ini selain menarik juga menjadi alat untuk bermain sambil belajar.

    4.    Ceritakan kemuliaan Rasulullah.

    Jangan bosan untuk menceritakan betapa mulianya beliau. Imbangi dengan sarana yang memadai. Kalau cerita-cerita yang sedang populer sekarang dijadikan bandingan, mengapa tidak? Misalnya saja sambil anak-anak mengagumi kehebatan Naruto, kita juga gambarkan betapa para nabi juga mempunyai kisah yang luar biasa.

    5.    Menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah.

    Rasulullah saw sebagai pribadi yang mulia dan diakui sebagai tokoh yang paling berpengaruh di dunia sepatutnya menjadi panutan keluarga. Ayah hendaknya meniru perilaku dan menjalankan sunnahnya. Ibu juga demikian adanya sehingga anak tinggal meniru perilaku mulia kedua orang tuanya bukan?

    6.    Lakukan dialog untuk menumbuhkan sikap kritis.

    Sekali lagi, pelaksanaan sesuatu akan lebih mantap setelah anak menyepakati dan memahaminya. Tidak ada cara yang lebih baik ketimbang dialog sehingga jadikan dialog sebagai metode yang paling diperhitungkan.

    Pembaca yang dirahmati Allah, demikianlah tadi cara-cara yang dapat dilakukan untuk menanamkan cinta Allah dan Rasulullah kepada anak sejak dini. Semoga kita sebagai orang tua dapat menumbuhkan cinta kepada Allah dan Rasulullah kepada anak-anak kita. Semoga kesalihan orang tua dapat diturunkan kepada anak-anaknya yang juga mencintai Allah dan Rasul-Nya. Aamiin.

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks