• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • Menyiapkan Generasi di Era 4.0

    Menyiapkan Generasi di Era 4.0

     

    Oleh: @rochma_yulika

    Meninggalkan generasi terbaik menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tua. Generasi yang bisa membangun peradaban yang lebih berkualitas. Alih-alih teknologi membuat kita sebagai orang tua harus mengikuti zamannya. Tidak bisa sama mendidik anak di zaman dulu yang mana teknologi masih sangat terbatas. 

    Kita ingat ketika era 70 an. Televisi saja terbatas siarannya. Media elektronik dan surat kabar belum semasif seperti sekarang ini. Anak-anak pun lebih mudah mengikuti pola konvensional. Seperti halnya ketika pulang sekolah anak bermain, sore hari mandi, jelang maghrib ke masjid dan usai shalat maghrib anak-anak belajar. Televisi jarang menarik perhatiannya. Apalagi baru malam hari saja mereka bisa melihat televisi. Siang pun ketika bermain tak ada godaan media digital yang akan merusak tatanan saraf otak bahkan saraf pada jari-jarinya. Tubuh mereka bergerak untuk bermain. Semua organ dimanfaatkan sesuai fungsinya. Sehingga motorik dan otaknya pun akan secara normal berkembang. 

    Saat ini PR kita cukup berat. mendidik anak tak cukup dengan bekal seadanya. Pun tak hanya ilmu namun kekuatan ruhiyah para orang tua pun punya andil bagi anak-anaknya. Mendidik anak untuk menjadikannya berkarakter saja butuh energi padahal godaan teknologi menjadi tantangan tersendiri. Artinya sembari berjuang keras mendidik menjadi generasi terbaik juga menghalau banyak tantangan yang akan merusak kepribadian dan mental anak.

    Apa yang seharusnya kita lakukan untuk mempersiapkan anak kita?

    1. Berikan anak kita ruang untuk berekspresi. 
    Menjadikan anak yang cerdas butuh ruang yang lapang. Bukan hanya secara harfiah lapang berarti tempat yang luas tetapi kesempatan melakukan banyak hal harus kita berikan. Bahkan bila nampak melakukan kegiatan yang membahayakan maka kita tidak spontan melarang tetapi membimbing dan memberi penjelasan sebab dan akibat bila memilih suatu kegiatan tersebut. 

    2. Tak mudah menyalahkan dari apa yang dilakukan.
    Otoritas orang tua yang membuat orang tua itu selalu benar dalam segala hal. Padahal kebenaran yang jadi ukuran dari orang tua tidaklah mutlak. Bisa jadi anak yang terkadang benar dalam pendapat atau argumen mereka. Lantas jika demikian tak perlu malu untuk merasa salah dan segera meminta maaf. Tunjukkan bahwa saat itu orang tua yang salah.

    3. Memberikan kesempatan untuk mengutarakan pendapat.
    Anak kita makin cerdas karena gizi yang jauh lebih baik dan sarana untuk belajar lebih banyak. Dengan banyaknya fasilitas yang didapat membuat anak kita bisa melakukan banyak hal bahkan memilih kata atau kalimat yang terkadang membuat kita tercengang. Namun demikian berikan ruang mereka berbicara dengan gayanya. Dan jangan lupa jadilah pendengar yang baik tanpa terburu menimpali. Baru setelah usai berikan bimbingan dan arahan atas pendapat anak kita dengan berlandaskan syariat Islam yang kita yakini.

    4. Tidak membatasi kreativitasnya. 
    Ada hal-hal unik yang kita dapati dari beberapa idenya. Mungkin saja menurut kita mustahil tetapi biarkan mereka melakukan apa yang diinginkannya. Bahkan jika perlu ada kebutuhan seperti barang-barang pendukung yang harus dibeli kita bantu pengadaannya. Tapi jangan lupa perlu dipahamkan tentang manfaat dari barang tersebut dan jangan sampai sekedar membeli tanpa tahu manfaatnya serta mengajari cara berhemat atas penggunaan barang tersebut.

    5. Mengajak berbincang sesuai dengan tahapan usia.
    Ada waktu untuk berkumpul dengan anak kita juga bersama keluarga yang lain jika memungkinkan. Namun yang penting bagi para orang tua untuk senantiasa menyapa ruang batin anak kita. Kita ajak bicara dari hati ke hati atau berbincang apa saja yang jelas ada nilai positif yang bisa diambil. Perlu juga sesekali bertanya keinginannya hingga tak hanya kita yang bisa memaksa sesuai kemauan kita tetapi mereka juga punya hak atas keinginannya.

    6. Berikan ruang berimajinasi
    Anak yang futuristik bisa jadi terlalu berlebihan Padahal kreativitas imajinasi juga mampu mencerdaskan anak. Tak semua anak bisa memikirkan keadaan masa depan yang menurut mereka sangat tidak nyata. Tapi apa pun itu kita harus memberikan kesempatan mereka melontarkan imajinasi tentang masa depannya yang merupakan perwujudan dari cita-citanya.

    7. Mengamati minat dan bakat Anak.
    Memang ada anak yang memiliki kemampuan multiple intelegen tetapi tak dipungkiri ada anak yang memiliki kecenderungan dalam hal keilmuan hanya satu bidang saja. Semisal anak kita ada yang mampu segala materi keilmuan sisi lain ada anak kita yang tidak suka matematika misalnya. Nah kita sebagai orang tua harus bijak menyikapi hal ini. Suport anak kita dari kompetensi yang dimiliki akan membuatnya sukses selama mau tekun dan berusaha.

    8. Mengarahkan anak untuk disiplin dan bertanggung jawab. 
    Aktif, krearif bahkan inovatif tidak lepas dari suasana rumah berantakan bukan? Nah tanggung jawab  untuk merapikan dari kegiatan-kegiatan setelahnya juga dibebankan kepada mereka sehingga tak hanya mampu kreatif tapi juga bertanggung jawab atas apa yang dilakukan.

    9. Membekali dengan pondasi aqidah dan akhlak.
    Era ke empat tentu godaan dunia lebih dahsyat. Bila tak mampu mengendalikan maka akan banyak terjadi penyimpangan moral dan akhlak. Bahkan dalam sangat mungkin kehidupan begitu keras dan menghalalkan apa saja. Bila aqidah kuat dan berakhlak mulia insyaAllah tanggung jawab kita mendidik generasi terbaik tetap akan terwujud.

    Kita tahu bahwa setiap anak 
    punya passion tersendiri, sehingga tidak bisa sama dalam mengarahkan. Butuh banyak cara dan gaya agar bisa membuat kemampuannya terasah.

    Begitu sekelumit sharing dari pengalaman mendidik dan menyiapkan anak di era 4.0. Kemajuan suatu bangsa terletak bagaimana orang tua mampu mendidik generasi yang baik. Bukan generasi lemah atau pun alay juga generasi yang suka meniru. Maka ilmu, keteladanan, ketelatenan, keikhlasan dan utama kedekatan kita kepada Allah menjadi modal utama kita dalam menyiapkan generasi yang tangguh.

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks