• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • SIT, SOLUSI  PARADIGMATIK    PENDIDIKAN  ISLAM:Latar Pemikiran Berdirinya Sekolah Islam Terpadu.

    SIT, SOLUSI PARADIGMATIK PENDIDIKAN ISLAM:Latar Pemikiran Berdirinya Sekolah Islam Terpadu.

     

     

    Drs. Ery Masruri*

    Ketiga. Komersialisasi -  Simplikasi

    (Bagian ke 2 dari 4 tulisan)

    Pola kehidupan yang hedonist materialistik, cenderung memprioritaskan upaya pemenuhan  kebutuhan materi sacara dominan dan berlebihan. Masyarakat disibukkan dengan perburuan materi, sebagai fasilitas kenikmatan hidupnya. Sebaliknya, kebutuhan ruhani termasuk di dalamnya pendidikan akhlak/karakter terabaikan. Akibatnya, terjadi pengalihan tanggung jawab pendidikan secara tidak proposional. Keluarga dalam menjalankan tugas pendidikan, lebih banyak menjadikan institusi pendidikan sebagai tumpuan dari pada sebagai mitra.

    Dalam konteks inilah kita dapati, sangat sedikit keluarga yang mendisain rumah dan lingkungannya ( baik fisik, apalagi programnya) bagi kepentingan pendidikan anak, karena tugas pendidikan sudah sepenuhnya diserahkan kepada institusi (sekolah).Tugas keluarga hanya menyediakan sebagian biaya yang diperlukan lembaga. Keluarga pada akhirnya hanya berfungsi sebagai tempat singgah bagi individu - individu yang terpisah dalam perjalanan yang panjang, sibuk dan melelahkan.

    Keluarga telah melepaskan fungsi utamanya, sebagai basis utama pendidikan. Sementara disisi lain, institusi pendidikan  telah mengalami disorientasi. Sehingga untuk mendapatkan keuntungan, banyak 'lembaga pendidikan' rela melipat idealisme. Apologi yang nampak logis adalah; Untuk biaya operasional, sekolah butuh dana tidak sedikit. Karena negara tidak mencover anggaran lembaga (swasta) kecuali hanya sedikit.

    Gaji guru yang layak, sarana prasaran yang memadai,program yang berkuwalitas, semuanya tidak bisa diperoleh tanpa dukungan masyarakat. Sementara kebanyakan lembaga penyelenggara tidak memiliki profit center sebagai sumber pendanaan profesional. Untuk itulah sekolah perlu menyesuaikan programnya dengan 'tuntutan/selera' masyarakat. Walaupun untuk itu harus menanggalkan idealismenya sebagai institusi penentu arah peradaban.

    Akhirnya, pendidikan betul - betul tersimplikasikan menjadi sekedar toko bernama 'sekolah', yang interaksi antar komponennya (guru/karyawan, siswa, orang tua dan masyarakat) tidak lebih sekedar jual beli jasa. Jauh dari sifat hubungan sosial mulia, yang didasarkan atas cita - cita bersama, Mengambil peran masa depan, membangun peradaban. Komunikasi yang munculpun pada ahirnya hanya sebatas tawar menawar  harga-jasa. Tidak ada sinergi positif yang sengaja direkayasa.

    • Lembaga, menyelenggarakan dan  mengelola sekolah dengan target 'keuntungan finansial'.
    • Guru-karyawan datang sebagai 'profesional' yang menyesuaikan  kinerjanya dengan 'bayaran',
    • Orang tua mendaftarkan anaknya  sebagai 'pembeli jasa' (program pendidikan dan operatornya) sehingga berhak menuntut layanan prima sesuai 'harga'.
    • Siswa, mengikuti program semaunya, sesuai posisinya sebagai pembeli yang adalah 'raja'.
    • Masyarakat, memposisikan sekolah sebagai 'usaha' yang banyak untungnya. Karenanya tidak perlu peduli, kecuali jika sekolah memberikan konstribusi funansial kepada lingkungannya.

     Akibat selanjutnya adalah,  kepedulian keluarga dan masyarakat terhadap institusi (sekolah) dan sebaliknya kepedulian intitusi terhadap keluarga (peserta didik) danasyatakatpun  menjadi hilang.Bahkan tidak jarang terjadi persengketaan.

    (Bersambung)

     

    * Drs. Ery Masruri  : Pengurus Konsorsiom Yayasan Mulia.

     

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks