• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • Koki dan gadget

    Koki dan gadget

     

     

    Nasiroh, S.Pd.SD

    Aku seorang guru di sebuah sekolah dasar swasta di kota yang dikenal sebagai Kota Pelajar, Yogyakarta. Tugas mengajar di sekolahku digilir supaya semua guru mendapat pengalaman yang sama. pemerataan, begitulah ….

    Nah saat itu aku dapat rezeki mengajar di kelas satu. Muridku imut- imut  dan lagi semangat 45 untuk sekolah, termasuk orang tuanya yang lagi seneng- senengnya punya anak yang sekolah SD karena rata- rata anak mereka adalah anak pertama.  

    Murid- muridku sangat beragam. Ada yang sangat perhatian ketika aku mengajar, ada yang memerhatikan sambil mengerjakan sesuatu (seperti menggambar, menggunting kertas, dan sebagainya), namun ada juga yang cuek. Asyik dengan dirinya sendiri. Yang aku sebutkan terakhir ini memang unik, sebut saja si Joko. Kadang-kadang si Joko ini melamun, kemudian tersenyum sendiri. Pada saat yang lain kudapati dia tidur pulas. Pernah juga tidak  masuk kelas gara- gara nguber-uber kucing yang sedang bertandang ke sekolah …. Kadang-kadang berjalan sambil memeragakan pesawat.  Kedua tangan direntangkan sambil membungkuk dan mengangkat satu kaki terus bunyi ... ngeng ... ngeng ... wush ....

    Satu hal paling tidak disukainya adalah pelajaran matematika. Ketika aku menyuruh murid-muridku menyiapkan buku matematika, Joko pasti tidak mau. Aku berusaha membujuknya, namun belum berhasil.  Berkali- kali kucoba tetapi masih gatot alias gagal total. Hal ini kemudian saya konsultasikan ke Bimbingan Konseling.

    Kedua orang tua Joko kami panggil ke sekolah untuk mendiskusikan tentang kondisi putranya ini. Alhamdulillah, kedua orang tuanya sangat kooperatif. Mereka malah curhat macem- macem. Mulai dari kebiasaannya di rumah yang tidak bisa lepas dari gadget sampai nonton televisi yang kurang terkendali.

    Kondisi Joko ini berlangsung cukup lama, sampai Joko belum mau belajar di kelas dengan baik seperti anak- anak seusianya. Setiap tahun Joko naik kelas dengan catatan. Catatan ini terus dikawal oleh wali kelas dan Bimbingan Konseling. Sampai Joko kelas 5 belum ada perubahan dan signifikan. Akhirnya Bimbingan Konseling merekomendasikan kepada kedua orang tua, supaya kondisi Joko dikonsultasikan ke Tumbuh Kembang RS Sarjito.

    Setelah melalui serangkaian tes dan observasi di tumbuh kembang RS Sarjito dapat diketahui bahwa ternyata Joko suka memasak. Besok kalau sudah besar mau jadi chef, ahli masak katanya, subhanallah.  Atas saran dari tim tumbuh kembang RS Sarjito, Joko diberi tugas masak di rumah, mulai membuat menu, belanja sampai memasaknya untuk seluruh anggota keluarga. Setiap hari Joko diberi uang lima puluh ribu rupiah untuk belanja sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, suka rela atau terpaksa, dia harus belajar berhitung. Bagaimana caranya supaya uangnya cukup untuk membeli bahan masakan untuk seluruh anggota keluarga. Joko mulai belajar perkalian dan hitung campuran, seperti belanja Joko hari ini.

    Harga 1 kg ayam Rp25.000,00 kalau beli 1,5 kg berarti harus membayar Rp25.000,00 x 1,5 = Rp37.500,00.

    Harga 1 ikat bayam Rp1.000,00 kalau beli 2 ikat berarti harus membayar Rp1.000,00 x 2 = Rp2.000,00.

    Harga 1 kg beras Rp10.000,00 kalau beli 0,5 kg berarti harus membayar Rp10.000,00 x 0,5 = Rp.5.000,00.

    Bumbu yang harus dibeli Rp4.000,00.

    Uang yang dimiliki Joko Rp50.000,00, apakah setelah dibelanjakan uangnya ada sisa?

    =Rp50.000,00 – (37.500 + 2.000+5.000+4.000)

    =Rp50.000,00 - Rp48.500,00

    =Rp1.500,00

    O ya, Ibunya selalu memberi motivasi, belanjanya tidak boleh lebih dari Rp.50.000, tapi boleh kurang dari Rp50.000,00. Kalau uangnya sisa boleh untuk Joko sebagai hadiah.

    Betapa senangnya Joko mendapat amanah baru dari ibunya untuk menyiapkan aneka masakan. Setiap pulang sekolah ibunya dengan sabar mengantar Joko ke pasar tradisional untuk belanja. Joko akan menghitung (tentu saja masih dibantu sang Ibu yang dengan penuh kesabaran mendampinginya) gimana caranya supaya uangnya sisa, karena sisanya boleh untuknya sebagai hadiah. Sampai di rumah, setelah mandi dan ganti baju, Joko sudah asyik di dapur untuk masak, dibantu ibu tentunya. Lucu ya, biasanya anak bantu ibu, yang ini ibu bantu anak memasak.

    Alhamdulillah hal ini tak berlangsung lama, hanya sekitar 2 bulan. Pada diri si Joko sudah ada kesadaran untuk belajar, terutama belajar matematika yang dulu sangat dibencinya. Dia sudah merasakan sendiri, kalau belanja di pasar tidak bisa berhitung nanti bisa ditipu oleh pedagang yang tidak jujur.

    Pada bulan ketiga aktivitas memasaknya, nilai ulangan matematikanya sudah bagus. Saat Ujian Akhir Nasional Joko mendapat nilai 97,5 untuk matematika, subhanallah. Fantastis.... hanya salah 1 soal dari 40 soal saja. Kedua orang tuanya sangat terharu dengan capaian prestasi Joko. Doanya diijabah Allah SWT. Kami para guru pun tak kuasa menahan air mata bahagia menyaksikan kebahagiaan anak didik kami. Alhamdulillah, ya Rabb, telah Engkau beri kemudahan pada anak didik kami dalam belajar.

    Sekarang Joko sudah kuliah dan sudah berani menikah. Karena sejak SMA sudah pinter bisnis online lho. Penghasilan sebulan sudah jutaan rupiah. Subhanallah wa Allahuakbar.

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks