• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • TAWAZUN YUK

    TAWAZUN YUK

     

    Nasiroh, S.Pd.SD

     

    Seorang gadis datang ke rumah kami dengan motor matic warna merah. Sepertinya, saya kenal wajah itu. Tapi kali ini ia tampak lain. Mengenakan jilbab imut, bajunya mini  lengan panjang ketat, dan setelan bawah celana pensil. Aroma parfum menyeruak.

    “Assalamu’alaikum ..., Fal Ada, Om?” tanya dia.

    “Wa’alaikum salam. Ada, masuk aja!” saya persilakan dia masuk ke rumah.

    Dari dalam rumah, terdengar percakapan antara gadis itu dengan anak perempuan saya, Fal.

    “Kok lama sih kamu nggak pernah lagi main ke rumahku,” kata gadis itu.

    “Iya nih, sorry. Habis, kita kan banyak kesibukan” jawab Fal.

    “Ngapain aja kamu sekarang? Kayak orang penting aja.”

    “Iya, kan ngurus Rohis, relawan bencana, penelitian, macem-macemlah.”

    “Duuh ngapain sih pake kayak gitu-gitu segala. Nggak enak banget jadi kamu, Fal. Udah ah, pokoknya besok sore main ke rumahku ya.”

    “Lho, trus, acaranya apaan? Besok aku ada rapat, tau….”

    “Pokoknya asyik deh. Ada party, mumpung ayah sama ibu nggak ada di rumah.”

    Gadis itu berpamitan pulang, keluar rumah, lalu menyalakan motor matic-nya.  Sekarang saya ingat, dia adalah putri seorang sahabat saya yang kini cukup dikenal sebagai seorang ustadzah senior. Ayahnya adalah seorang seorang ustadz dan penggerak dakwah yang disegani. Kedua orangtua mereka saat ini sangat sibuk.

     

    Manajemen Keluarga yang Rapuh

    Saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin putri dari pasangan dai-daiyah berpenampilan seperti itu? Tidak ada yang tidak mungkin dalam sudut pandang realitas. Saat Kan’an mengingkari ajaran tauhid dan bersekutu dengan orang-orang kafir, Nabi Nuh alayhissalam tetap berharap putranya itu selamat dari adzab banjir bandang. Tetapi apa jawaban dari Allah? Dia yang Maha Bijaksana menyampaikan kepada Nuh bahwa Kan’an seketika itu bukanlah lagi bagian dari keluarganya (QS Hud ayat 46).

    Kisah Nabi Nuh yang saleh dan putranya yang menyimpang dari ajaran ayahnya sendiri itu memang sering dikutip sebagai pembelaan bagi para dai atau daiyah yang menemui masalah dalam keluarganya. Seorang muballigh ternama yang anaknya tersandung narkoba, seorang ulama yang putrinya terlibat asusila, seorang pejuang kebenaran yang putranya terlibat kasus pidana, dan sebagainya bisa saja membuat analogi bahwa setiap pejuang kebenaran akan diuji sebagaimana Nuh dan para nabi lainnya.

    Tentu, hadirnya tulisan ini tidak saya maksudkan untuk memberikan pembelaan. Justru sebaliknya, saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk menyadari bahwa diri ini teramat jauh jika dibandingkan dengan Nabi. Soal ujian dakwah, jangan pernah menyandingkan nama kita dengan nama Nabi Nuh, apalagi Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW!

    Kita memikul beban dakwah yang berat, memang. Kita juga menjalankan amanah tabligh yang tiada pernah boleh berhenti. Tetapi kesibukan itu masih akan selalu menyisakan waktu untuk keluarga, anak-anak yang juga amanah.

    Pasangan suami isteri yang disibukkan oleh aktivitas dakwah sering menghadapi dilema ini. Satu sisi, mereka memiliki kemampuan dalam pergerakan dakwah yang sulit digantikan oleh orang lain. Sementara di sisi lain, anak-anak mereka mulai tumbuh dan memerlukan sentuhan tarbiyah orangtuanya.

    Penyebab paling memungkinkan terlantarnya anak-anak para aktivis dari sentuhan tarbiyah adalah manajemen yang rapuh dalam keluarga. Ayah sebagai seorang leader tak mampu memberi kepastian arah dan jaminan, sementara ibu sebagai seorang manajer tidak memberi petunjuk dan bimbingan. Anak-anak dari kepemimpinan dan manajerial keluarga yang berantakan berisko tumbuh menjadi pribadi yang menyimpang, karena melihat tipe kedua orangtuanya bukanlah tipe yang ideal. Mereka berkesimpulan, tipe orang tua aktivis itu tidak peduli kepada anak sendiri.

    Betapa tidak enak menjadi putra putri pasangan aktivis. Tidak ada waktu yang panjang untuk bertamasya, tidak ada kehangatan setiap menjelang tidur dengan cerita dan dongeng, tidak ada keasyikan membuat mainan dari barang bekas bersama-sama, juga tidak ada jam khusus bersantai sambil masing-masing mengungkapkan perasaan dan pengalaman hidupnya. Orang tua hanyalah sepasang malaikat pengawas yang tiap sore mengecek PR dan hafalan hadits. Orang tua hanyalah polisi galak yang tiap pagi teriak—teriak membangunkan, lalu minta dibantu mengepel lantai dan merapikan ini itu. Anak-anak akhirnya menyimpulkan, orang tua aktivis bukanlah figur yang baik. Anak-anak ini berteriak dalam hati, “Aku tak mau seperti mereka!” Lebih hangat bersahabat dengan android dan lebih nyaman berguru kepada google. Keluarga sibuk dai-daiyah yang bersemangat itu di satu sisi menunaikan amanah dakwah dari Allah, di sisi lain mengkhianati amanah keluarga dan mendzalimi anak-anak mereka.

     

    Kita Telah Memilih

    Tidak ada yang salah dengan kesibukan berdakwah bagi ayah dan bunda. Bukankah kita telah memilih jihad sebagai jalan juang? Kita telah memilih jalan ini, sehingga semua risiko seharusnya telah diperhitungkan dari awal.

    Daripada pembelaan dengan membuat analogi cobaan nabi Nuh, tidakkah sebaiknya kita ambil teladan Nabi Ibrahim alayhissalam?  Kesibukan  Ibrahim itu justru menjadi inspirasi bagi anak-anak mereka untuk seperti ayahnya. Kesibukan kita dalam berdakwah adalah bagian dari tarbiyah, sebuah pertunjukan nyata bagi anak-anak kita tentang aktivitas kebaikan. Oleh karenanya, kita dapat mengatur pilihan ini sedemikian rupa sehingga anak-anak tetap dalam hangatnya dekapan kita.

    Pertama, menjadi figur yang matang dalam dakwah. Memberi taklim dengan penuh bobot, berceramah dengan memukau, menjadi imam dengan bacaan yang bagus, dan sebagainya. Anak-anak lebih berpeluang tertarik pada figur yang matang ini ketimbang asal-asalan. Tetapi kenyataannya, ayah bunda mempertontonkan figurnya yang asal-asalan: mengisi taklim dengan materi dan kemasan berantakan, berceramah tanpa greget, menjadi imam dengan kualitas bacaan ala kadarnya, atau rapat organisasi dakwah yang lebih banyak membicarakan menu makanan.

    Kedua, melibatkan anak-anak dalam aktivitas dakwah orangtua sejak dini. Dengan kualitas dakwah orang tua yang matang, anak-anak merasakan langsung dampak kegiatan orang tuanya. Mereka takjub melihat ayahnya sigap mengangkat bantuan bencana di lapangan, atau takjub melihat ibunya penuh keilmuan memberikan konsultasi fikih.

    Ketiga, memberi hak anak-anak menikmati waktu bersama orangtua.  Mari kita robohkan mitos ‘waktu efektif’. Kata pemberi saran ‘waktu efektif’ ternyata tidak punya bukti kuat penelitian tentang hal itu. Rujukan mereka hanyalah buku-buku motivasi (bukan research based) karangan motivator yang memang ulung dalam hal meyakinkan orang. Teorinya cukup memukau, bahkan disertai bukti dan metodologi, padahal itu semua tidak lebih dari cara melanggengkan egoisme orang tua untuk menindas anak-anaknya yang makin kesepian. Memberikan waktu yang cukup bagi anak-anak, meski tidak untuk melakukan aktivitas yang berarti itu lebih baik daripada memberikan waktu terbatas kepada anak dengan aktivitas yang dipadatkan saat itu.

    Jadi, kita telah memilih. Apa boleh buat, anak-anak kita harus mendapatkan hak-haknya tanpa menghentikan langkah juang seorang mujahid mujahidah. Bila perjuangan dakwah harus dibayar mahal dengan runtuhnya bangunan keluarga dan rapuhnya akidah anak-anak kita, sejenak kita harus pulang kembali ke rumah.  Kisah dalam ilustrasi di awal tulisan ini harus segera kita akhiri, sepakat kan?

    Mari, kita seimbangkan dakwah keluar dan ke dalam keluarga, tawazun, apalagi dalilnya jelas ”ku anfusakum wa ahlikum na-ro”, jagalah dirimu dan keluargamu dari apai neraka, anak biologis kita lebig berhak menerima dakwah kita dari pada anak ideologis. wallahu a’lam.

     

     

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks