• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • Maknawiyah Keluarga Sebagai Dasar Kokohnya Ketahanan Keluarga

    Maknawiyah Keluarga Sebagai Dasar Kokohnya Ketahanan Keluarga

     

     

    Oleh: @rochma_yulika

     

    Keluarga adalah sistem Illahi, begitulah nasihat Syaikh Abu Al Hameed Rabee'. Bagi kita yang memahami nilai dan kaidah dalam Islam, kalimat itu akan menjadi motivasi yang kuat untuk menjadikan sistem yang datangnya dari Allah sebagai pedoman utama. Al Qur'an serta As Sunnah tak pernah lepas dari hidupnya karena keduanya penuntun untuk suksesnya membangun keluarga. Sehingga bisa dikatakan bahwa ketaatan dalam keluarga menjadi kunci utama kokohnya bangunan dalam keluarga serta mampu mengantarkan anggotanya untuk sukses. Kategori sukses ini tidak hanya diukur dari sekedar prestasi akademik, berlimpahnya materi, namun bagaimana para anggota keluarga itu aktif berperan untuk tegaknya nilai Ilahiyah di muka bumi ini.

    Rumah tangga ibarat bahtera yang akan menuju tujuan yang jauh. Dalam mencapai tujuannya, bahtera tersebut akan melintasi gelombang yang sangat dahsyat, bahkan karang-karang yang tersembunyi di balik gelombang siap mengadang dan menghancurkan bahtera yang sedang berlayar. Belum lagi badai yang siap meluluhlantakkan bahtera yang datangnya tak bisa diperhitungkan. Maka, butuh banyak persiapan tak hanya secara fisik atau materi yang harus ada tapi kekuatan mental menjadi hal yang penting dalam keadaan yang genting.

    Kecemasan saat terjadinya ujian, kegelisahan ketika berjumpa kesulitan, risau terhadap apa yang akan terjadi, kepanikan ketika musibah datang beruntun. Tak ada obat yang bisa menyembuhkan kecuali iman yang kuat kepada Sang Pencipta alam semesta. Mengapa perkara maknawiyah menjadi hal penting? Karena dari hati lah sumber segala ketenangan. Hati seperti apakah yang mampu tenang dalam terjangan gelombang masalah yang dirasa cukup berat? Yakni hati yang dinaungi cahaya Illahi lantaran pemiliknya selalu dekat dengan Allah swt.

    Mengarungi hidup tak selalu bertemu dengan hal yang enak saja. Ketika ada sesuatu yang tak kita ingini hadir, maka yang bisa kita lakukan sebagai pasangan adalah harus mampu bekerja sama dalam mengendalikan bahtera. Tapi ada faktor utama yang harus menjadi pedoman yakni hubungan mereka dengan Sang Pencipta. Coba saja kita bayangkan sekiranya rintangan yang terjadi dalam mengarungi lautan dengan bahtera ada dalam hidup berkeluarga. Lantas bagaimana menyikapinya? Ujian selayaknya gelombang dahsyat yang akan memorak porandakan bahtera keluarga. Bila tidak melandasi dengan keimanan yang kuat maka akan mudah sekali terombang-ambing bahkan sampai kandas sebelum sampai pada tujuan.

    Sejatinya, pernikahan merupakan sajadah panjang pengabdian kepada Allah SWT, sekaligus mengikuti sunah Rasulullah SAW. Bagi seorang Muslim, membangun mahligai rumah tangga untuk melahirkan generasi saleh merupakan amal saleh yang mengalirkan kebaikan hingga akhir zaman.

    Pondasi dan tujuan pernikahan sedemikian lugas dalam kitab suci. "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.’’ (QS 30: 21).

    Untaian firman Illahi ini kerap kali dilantunkan di saat akad nikah agar suami dan istri menyadari bahwa pernikahan adalah perintah Allah SWT. Menggapai keluarga sakinah mawaddah wa rahmah pun harus diperjuangkan, sebab ia tidak datang dengan sendirinya.

    Keimanan dalam sebuah keluarga harus terus digenapkan. Menjadi pribadi taat kepada aturan yang telah disyariatkan itulah salah satu cara bagi kita untuk menambah keimanan. Maka kekuatan maknawiyah antarpasangan menjadi hal penting untuk diperhatikan. Dan dengan itu generasi terbaik akan terlahir untuk meneruskan estafet perjuangan.

    Bagaimanakah seharusnya yang dilakukan oleh masing-masing kita untuk berperan mengokohkan ketahanan keluarga? Kita coba pahami ayat berikut. "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim, 66: 6), maka rumah tangga islami dan maknawiyah sebagai penopang kokohnya keluarga hendaknya dapat diwujudkan, maka sekurang-kurangnya memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut.

    1. Menjaga ketauhidan kita kepada Allah. Seperti halnya Nabi Ya’kub ‘alaihis salam memperhatikan tanggung jawab pemeliharaan ketauhidan atau aqidah anak keturunannya,
      “Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’” (QS. Al-Baqarah, 2: 133)
    2. qidah harus ditanamkan pada diri sendiri dan diturunkan kepada generasi. Jika kita paham bahwa ketahanan keluarga pilar utamanya ada pada ketauhidan, maka pasti akan menjadi perhatian khusus dalam membangun keluarga Islami.
    3. Memelihara syariat yang telah diajarkan. Keluarga islami adalah mereka-mereka yang telah ridho kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul. Oleh karena itu mereka selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah sebagaimana diwasiatkan oleh nabinya, “Telah aku tinggalkan bagi kamu dua perkara yang jika kamu berpedoman pada keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah rasul-Nya (Al-Hadits)”. (HR. Al-Malik dan Al-Hakim)

    Mereka senantiasa berpegang teguh kepada ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demi meraih keselamatan di dunia dan akhirat.
    Imam Malik berkata, “Sunnah (Rasulullah) itu ibarat perahu nabi Nuh (saat terjadi taufan), maka barang siapa naik ke atasnya maka selamatlah ia, dan barang siapa tidak mau menaikinya maka tenggelamlah ia.”

    Syariat dijunjung tinggi oleh anggota keluarga. Tidak ada rasa khawatir salah satu anggota keluarganya berbuat buruk karena tatanan nilai sudah diajarkan dan diterapkan dalam kehidupan.

    Beberapa contoh yang berkaitan dengan penegakan syariat di rumah adalah meminjam barang yang bukan miliknya tanpa izin termasuk dosa. Apalagi sampai mengambil barang orang lain. Juga berkaitan dengan hal lain seperti menjaga shalat wajib, mengenakan kerudung dan masih banyak lagi yang kita sebagai orang tua harus terus membimbing anak-anak kita. 

    1. Memperbaiki ibadah kepada Allah. Keluarga muslim hendaknya menjadi madrasah bagi seluruh anggotanya menjadikan rumah sebagai tempat pengajaran untuk beribadah dengan sebaik-baiknya. Totalitas penghambaan diri kepada Allah terus ditumbuhsuburkan dalam keluarga. Ayah ibu yang rajin ibadah akan menjadi contoh bagi anak-anaknya. Selain ibadah berupa shalat perlu diajarkan melakukan ibadah yang lain seperti tilawah, dizkir juga doa. Karena tak ada artinya apa-apa tanpa melibatkan Allah dalam segala urusan. Ibadah merupakan salah satu cara menyelesaikan masalah dalam keluarga. Seperti dalam Al Qur'an dikatakan, "Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.”

    Mengajak anak dan menjadi teladan dalam beribadah sudah seharusnya kita lakukan. Akan menjadi sulit jika kita hanya menyuruh tanpa contoh kongkrit. Maka sebagai orang tua pembiasaan sejak dini sudah kita wariskan. Seperti mendekatkan anak ketika kita shalat, dan beraktivitas ibadah lainnya. Juga ketika anak menangis pun kita boleh sembari menggendongnya. Hal seperti itu sangat baik dampaknya dalam pembentukan karakter gemar beribadah pada diri anak.

    1. Menjaga Keluarga dari kemungkaran. Keluarga muslim harus menjadi benteng yang tangguh yang dapat melindungi anggotanya dari hal-hal yang dapat menggiringnya kepada kebinasaan, kehinaan juga berupa nilai-nilai, budaya, adat, kebiasaan, dan perilaku yang buruk. Keluarga harus menjadi tempat pertama tegaknya amar ma’ruf dan nahi munkar yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. “ (HR. Muslim)
    2. Menyemai akhlak Islami mencontoh keluarga nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah Ta’ala, diantaranya adalah dalam rangka memperbaiki akhlak manusia,“Bahwasanya aku diutus adalah untuk menyempurnakan kebaikan akhlak.” (HR. Ahmad). Maka, hal ini pun menjadi bagian dari tugas setiap rumah tangga muslim dalam rangka ittiba’ kepada beliau. Setiap rumah tangga muslim harus menjadi tempat penyemaian nilai-nilai mulia dan berupaya meneladani akhlak Nabi yang mulia.

    Sikap baik harus kita ajarkan karena dalam hidup bersama orang lain yang namanya akhlak itu sangat penting. Apalagi jika bercermin dari nasehat Ibnul Jauzi,”Jika ingin tahu kadar agama seseorang lihatlah bagaimana ia berakhlak kepada sesama.” Sebagai orang tua harus telaten mengajarkan kepada anak seperti mengucapkan terima kasih, menyapa tetangga, murah senyum dan jangan berkata kasar. Nasihat terus kita ulang namun iringi dengan doa, karena penjagaan Allah jauh lebih baik dari penjagaan kita sebagai orang tua.

    Seperti itulah contoh keluarga yang selalu menguatkan kondisi maknawiyah sehingga mudah menangkal hal buruk yang akan merusak keutuhan keluarga dan melemahkan generasi di belakangnya.




     

     

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks