• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • HADIAH HAJI TERINDAH

    HADIAH HAJI TERINDAH

    HADIAH HAJI TERINDAH

    Oleh Nasiroh, S.Pd.SD

     

                Aku mengajar di Sekolah Dasar Islam Terpadu Luqman Al Hakim Yogyakarta(Esluha) sejak bulan Desember tahun 1997. Lama juga ya, sudah hampir 21 tahun. Aku mulai bergabung ketika sekolah ini memasuki tahun keempat sejak berdiri pada tahun 1994. Pada awal aku bergabung di sekolah ini, belum ada kantin sehingga anak-anak biasa membawa bekal snack dari rumah. Mereka terbiasa berbagi dengan teman dan kadang-kadang  aku juga kebagian, alhamdulillah. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak pedagang keliling yang menggelar dagangannya di depan sekolah, tepatnya di gang Delima. Akibatnya setiap jam pulang sekolah, gang Delima sering macet. Warga sekitar mengajukan semacam protes ke sekolah. Pihak sekolahpun kemudian bermusyawarah mencari jalan keluar bagaimana baiknya.

                Hasil musyawarah diputuskan mulai tahun 2000 ada snack untuk anak-anak supaya anak-anak tidak jajan di gang Delima. Sebelumnya anak-anak hanya mendapat fasilitas makan siang dari sekolah. Setiap hari anak–anak akan mendapatkan snack dua kali, yaitu snack pagi dan snack sore. Snack pagi berupa makanan ringan,dihidangkan saat istirahat pertama pada pukul 08.40 WIB, dan snack sore berupa minuman yang dihidangkan pada pukul 14.00 WIB. Alhamdulillah, sejak itu anak-anak lumayan tidak banyak yang jajan di gang Delima. Seiring berjalannya waktu, alhamdulillah semakin banyak masyarakat yang menyekolahkan anaknya di SDIT Luqman Al Hakim ini. Gang Delima menjadi ramai lagi dan kemacetan pun tak terelakkan. Para guru bermusyawarah tentang kemungkinan adanya koperasi di sekolah, supaya anak-anak tidak jajan di gang Delima. Disamping mengakibatkan kemacetan, masalah jaminan kesehatan juga cukup rawan. Akhirnya disepakati ada koperasi yang menyediakan berbagai kebutuhan anak sekolah seperti seragam, alat tulis, aneka sembako serta snack.

                Dengan adanya koperasi ini, harapannya anak-anak bisa membeli kebutuhan sekolah dan jajan di koperasi sehingga tidak perlu jajan di gang Delima. Waktu terus berjalan. Anak-anak banyak yang jajan di koperasi tetapi gang Delima tetap ramai pedagang keliling yang dikerumuni anak-anak sepulang sekolah. Kami berpikir, bagaimana caranya menghilangkan kemacetan di gang Delima. Mengusir para pedagang jelas tidak mungkin. Mereka bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Jadi, yang bisa kita kendalikan adalah anak- anak. Maka mulai tahun 2014 diberlakukan voucher sebagai alat tukar belanja di koperasi. Anak-anak tidak boleh membawa uang untuk jajan, mereka hanya boleh membawa voucher ke sekolah. Bagi anak-anak yang membawa uang, maka uangnya akan disita. Sedikit demi sedikit, pedagang di gang Delima mulai pergi karena tidak ada yang membeli. Alhamdulillah, cara ini sangat efektif untuk menghilangkan kemacetan di gang Delima.

                Tahun ajaran 2018/2019 aku mendapat amanah mengajar di kelas satu, kelas penuh happy karena tiap hari bernyanyi bersama anak-anak. Alhamdulillah aku mendapat rizki menunaikan ibadah haji tahun ini. Aku mengambil cuti pada tanggal 2 Agustus sampai 8 September 2018. Ada kesempatan 2 pekan mengajar dan melakukan pendekatan dengan anak-anak siswa baru kelas satu sebelum berhaji, mulai 16 Juli sampai 1 Agustus 2018. Tanggal 2 Agustus aku dan suami menyiapkan barang-barang yang dibawa. Tanggal 3 Agustus 2018 pagi kami menyerahkan koper ke biro bimbingan haji yang kami ikuti.  Setelah itu, kami mampir ke sekolah untuk pamitan dengan anak-anak dan teman-teman seperjuangan.

    “Anak- anak, insyaAllah Ustadzah mau pergi berhaji, anak-anak yang shalih ya, nurut sama ustadzah Rani, shalatnya yang tertib ya!” pesanku kepada anak- anak.

    “Ustadzah pergi hajinya berapa hari?,”tanya Ahmad, muridku yang paling istimewa.

    “Kalau hajinya hanya 6 hari Mas Ahmad, tapi InsyaAllah Ustadzah tidak masuk 35 hari Mas Ahmad,” jawabku.

    “Wah....lama sekali,” kata Ahmad menimpali jawabanku dengan raut muka sedih.

    “Iya, lama sekali, doain ya, Ustadzah lancar dalam melaksanakan ibadah haji,” kataku selanjutnya.

    “Sudah ya, Ustdzah pamit, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” aku mengakhiri pamitan di kelas.

    “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab anak-anak serempak.

    Satu persatu mereka menyalamiku.

    Alhamdulillah, aku dan suami diberi kemudahan dalam melaksanakan rukun, wajib, dan sunnah haji. Kami berdua sangat bersyukur bisa berkumpul kembali dengan keluarga, karena ada 3 jamaah di rombongan kami yang meninggal dunia di tanah suci. Kami berangkat hari Senin, 6 Agustus dan pulang Sabtu, 1 September 2018. Hampir semua jamaah haji sakit batuk, tak terkecuali aku. Senin, 3 September 2018 aku periksa ke dokter dan diberi obat. Aku control kedokter sampai dua kali karenabatukku belum sembuh. Senin, 10 Agustus aku masuk pertama kali sepulang haji, masih dalam kondisi batuk. Wah, badanku kaget. Di tanah suci, aktifitas kami hanya makan, mandi, tilawah, tidur,dan menunggu waktu shalat. Sementara di sekolah, aku menghadapi berbagai hal yang membutuhkan energi ekstra.

    Hari ini, ada 4 anak (2 pasang) anak berkelahi. Ahmad melawan Faiz sampai cakar-cakaran (Faiz luka cakar di mukanya sedangkan Ahmad luka cakar di tangan). Sedangkan Dino melawan Beni sampai tendang-tendangan. Keempat anak yang berkelahi nangis semua. Pingin ikutan nangis deh rasanya, tapi malulah ya. Alhamdulillah, keempat anak berhasil aku damaikan walaupun agak lama. Ada juga yang mengejek temannya dan yang diejek langsung mukul. Aku berlari menghampirinya.

    “Stoooop....! Jangan dipukul ya, sayang, nanti temannya sakit,” rayuku pada Fahri yang siap mengayunkan pukulannya lagi, karena yang mengejek belum berhenti mengejek.

    “Hasan mengejekku terus, Ustadzah,” jawab Fahri berusaha memukul Hasan.

    “Mas Hasan, jangan mengejek teman ya, nanti temannya marah,” bujukku pada Hasan yang masih mengejek.

    “Biarin, Fahri memang jelek, Fahri eek...,” katanya sambil terus mengejek.

    Begitulah sebagian kecil fragmen di kelasku. Wajarlah kalau badanku kaget, setelah sekitar sebulan menjadi “pensiunan dadakan”.

    Selesai mengajar pukul 14.00 WIB aku langsung pulang. Rasanya lelah jiwa raga. Badan sudah agak demam dalam perjalanan pulang. Malamnya demam tinggi. Tanggal 11 September 2018, harusnya aku ikut family gathering, tapi karena masih demam aku tidak ikut. Sedih sekali rasanya. Meskipun sakit, aku sangat bersyukur karena sakitnya sudah di tanah air. Tak mau membayangkan andai aku sakit di tanah suci, tentu tidak bisa ibadah dengan optimal. Rabu, 12 September 2018, aku kembali ke dokter karena obat sudah habis dan belum sembuh. Akhirnya aku dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam. Aku diberi obat segepok dengan pesan, kalau sampai Ahad masih demam maka harus periksa darah di laboratorium. Aku juga mendapat cuti dari dokter selama 3 hari. Alhamdulillah akhirnya sembuh juga. Kamis demamku sudah reda dan batukku pun berangsur-angsur sembuh.

    Senin, 16 September 2018, hari pertama PTS(Penilaian Tengah Semester). Aku masuk sekolah dalam keadaan masih batuk-batuk. Anak-anak melaksanakan shalat dzuha terlebih dahulu. Hari ini ada beberapa anak yang belum tertib shalat dzuha. Ahmad berjalan mondar-mandir di shaf putri, mencubit pipi anak-anak putri dan menarik-narik mukenanya. Hasan bersembunyi di bawah kolong meja guru, tidak mau shalat dzuha katanya. Fahri sibuk menggoda anak-anak putra, mendorong, menarik, bahkan berguling-guling di depan shaf putra.

    “Aku gak mau shalat,” teriak Beni.

    Di sisi lain terlihat Dino asyik dengan dirinya sendiri.

    ”Grrr....raksasa siap menerkam mangsa,” kata Dino.

    Wah... shalat dzuha hari ini kacau balau. Kunasehatkan kepada anak-anak supaya nanti saat shalat dzuhur lebih tertib lagi. Ketika petugas piket sedang melipat tikar, hampir semua anak putra lari ke halaman main kejar-kejaran. Kupanggil mereka untuk masuk kelas. Alhamdulillah, semuanya masuk setelah dibantu guru BK dan petugas satpam. Rahasia umum, kelas satu itu belum membutuhkan nilai, yang membutuhkan nilai adalah guru dan orang tuanya. Seperti hari ini, beberapa anak masih perlu dirayu supaya mau mengerjakan soal. Alhamdulillah, setelah dibujuk dan dirayu, hari ini semua anak mengerjakan semua soal kecuali Fahri. Dia tidak mau mengerjakan soal karena tidak diberi uang saku oleh orang tuanya. Aku mengkonfirmasi ke bunda Fahri tentang kebenarannya. Beliau membenarkan. Fahri dan kakaknya sedang dihukum tidak diberi uang saku semua karena berantem di rumah. Wah, kasihan Fahri dan kakaknya, batinku.

    Selasa, 17 Sempember 2018, hari kedua PTS. Kali ini aku ingin memberikan pembelajaran ke anak-anak berupa hukuman.

    “Anak-anak, mulai sekarang, yang belum tertib tidak boleh ikut shalat di kelas, tapi menunggu di luar ya,” jelasku kepada anak-anak.

    Alhamdulillah semuanya sudah ikut shalat dzuha walaupun masih senggol sana sini, kecuali Ahmad. Muridku yang istimewa. Sebenarnya anaknya pinter, tapi moody banget. Kalau hatinya sedang tidak enak, maka dia akan seenaknya sendiri. Tapi kalau sedang mood,wah... dia shalih banget. Bahkan bisa menasihati temannya seperti orang dewasa. Seperti pagi ini, nampaknya hatinya sedang tidak enak, jadi belum mau tertib shalat.

    “Mas Ahmad, ayo shalat, sayang!,” bujukku

    “Ga mau,” jawabnya sambil berteriak dan menggoda teman- emannya.

    “Baiklah, kalau begitu mas Ahmad menunggu di luar ya, jangan mengganggu teman- teman,” kataku pada Ahmad.

    “Ga mau, aku maunya di sini,” jawabnya lagi sambil berlari-lari diantara shaf.

    Karena sudah diingatkan beberapa kali dan belum mau shalat, maka aku putuskan untuk menggendongnya ke luar kelas, kemudian aku tutup pintunya. Kebetulan perawakan Ahmad kecil, jadi aku masih kuat menggendongnya. Kalau gede, aku akan berpikir 1000 kali untuk menggendongnya.Di luar kelas, Ahmad menangis sambil menggedor-gedor pintu, tapi tidak kubuka. Kupikir ini hukuman untuknya supaya jera. Alhamdulillah ada guru BK yang lewat. Suasanapun tenang. Sampai shalat dhuha selesai, Ahmad masih bersama guru BK dan akhirnya mau masuk kelas.

    Alhamdulillah, dengan penuh perjuangan, semua anak mengerjakan soal PTS. Namun, hal ini tidak terjadi pada PTS jam kedua. Kenapa? Karena Fahri berulah lagi. Hari ini orangtuanya tidak punya persediaan voucher sehingga mereka diberi uang Rp10.000 untuk berdua. Uang tersebut dibawa kakaknya yang duduk di kelas lima. Setelah istirahat pertama, Fahri ke kelas kakaknya untuk minta uang. Betapa kecewanya Fahri karena uangnya hilang. Kucoba untuk memberi snack tambahan untuk Fahri, tapi ia belum mau mengerjakan soal juga. Di luar dugaan saat persiapan shalat dhuhur, kakaknya Fahri yang bernama mbak Farah datang dan memberi 3 gambar anak putri berjilbab kepada Fahri untuk dijual. Fahripun nurut. Kulihat beberapa anak putri ditawari untuk membeli gambar kakaknya, tapi belum ada yang mau membelinya. Fahripun kembali bersedih. PR ku hari ini adalah mengkomunikasikan kejadian hari ini dengan orang tua Ahmad dan Fahri.

                Malam hari setelah shalat isya’, aku chatting dengan bunda Ahmad dan bunda Fahri.

    “MasyaAllah, maafkan anak saya, Ustadzah. Kami bersedia menerima sanksi apapun dari sekolah akibat perilaku anak saya karena kami menyadari tanggung jawab pendidikan ada di kami sebagai orang tuanya. Nanti Ahmad kami beri nasihat supaya lebih tertib shalatnya,” jawaban Bunda Ahmad seperti tetesan salju di padang pasir. Ceeees...adem banget hatiku rasanya.

    “Maaf, Ustadzah, besok sangu akan kami berikan sendiri-sendiri ke Fahri dan kakaknya,” jawaban Bunda Fahri juga menentramkan hatiku. Malam ini aku bisa tidur nyenyak karena sudah selesai mengkomunikasikan dengan para bunda.

                Rabu, 18 September 2018. Hari ketiga PTS. Dari rumah aku sudah siapkan mental yang lebih handal. Mungkin kalau kelihatan dari luar seperti lapis baja. Kalau kemarin kesabaranku ada di level 10, maka hari ini kusiapkan sampai level 20. Kulihat penampilan Ahmad ada yang beda. Hari ini dia pakai peci.

    “Ganteng banget mas Ahmad hari ini,” pujiku tulus.

    Ahmad hanya senyum-senyum saja. Setelah bel tanda masuk berbunyi, ada yang berubah dari Ahmad. Setelah tikar digelar, dia bergegas membuka tasnya. Dia mengeluarkan sajadah kecil dan langsung dibentangkan di tikar. Subhanallah, Allahu akbar. Ahmad menjadi kalem dan shalih banget. Ahmad pun shalat dhuha walaupun belum tertib banget. Wah, ternyata, nasihat bunda Ahmad sangat didengar. Hari ini Ahmad sudah mau shalat.

    Begitu juga dengan Fahri. Fahri juga shalat dzuha walaupun belum tertib. Begitulah, kerjasama guru dan orang tua memang sangat penting untuk keberhasilan pendidikan anak. Alhamdulillah, kesabaran yang telah kusiapkan sampai level 20, hari ini cukup kupakai di level 8 saja.

                Kamis, 19 September 2018. Hari keempat PTS. Hari ini aku tetapsiapkan kesabaran pada level 20. Ahmad dan Fahri kembali lagi seperti semula. Beberapa anak putra yang lain juga ikut belum tertib. Sedihnya hatiku. Ibarat perguruan silat yang mempunyai jurus pamungkas, akupun punya. Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah berilah kemudahan bagiku untuk membimbing anak-anak tertib shalat.  Ku keluarkan jurus pamungkasku yang sudah aku uji coba kepada 2 angkatan sebelumnya dan alhamdulillah berhasil. Apa itu......

    “Perhatian perhatian,” kataku memancing perhatian anak.

    “Siap, Ustadzah,” jawab anak-anak serempak.

    “Anak-anak....Ustadzah hari ini dan seterusnya punya hadiah untuk yang shalatnya tertib. Segera bershaf, tidak tengak-tengok, pandangan ke tempat sujud dan membaca bacaan shalat dengan semangat. Bagi anak-anak yang belum bisa melihat tempat sujud, boleh merem supaya tidak terganggu!” Aku memberi penjelasan panjang lebar kepada anak-anak.

    “Hadiahnya apa, Ustadzah?” hampir serentak anak-anak bertanya.

    “Voucher.... Nah mulai sekarang, Ustadzah akan memilih 1 anak putra dan 1 anak putri yang paling tertib tiap selesai shalat untuk mendapatkan voucher,” tambahku.

    “Ye...,” anak- anak bersoarak senang bukan kepalang.

    Maka merekapun berlomba-lomba untuk tertib. Subhanallah. Dari awal sampai akhir anak-anak shalat semua, walaupun ada yang masih belum tertib. Setelah selesai shalat aku umumkan siapa yang mendapat hadiah voucher. Hari ini diumumkan dan langsung diberikan hadiah vouchernya.

    “Alhamdulillah, yang mendapat voucher shalat dzuha hari ini adalah mbak Halimah dan mas Rafif. Selamat ya buat mbak Halimah dan mas Rafif, semoga teman- teman yang lain bisa tertib seperti mbak Halimah dan mas Rafif.”

    “Alhamdulillah, yang mendapat voucher shalat dzuhur hari ini adalah mbak Syifa dan mas Nabil, selamat ya buat mbak Syifa dan mas Nabil dan semoga teman-teman yang lain bisa tertib seperti mbak Syifa dan mas Nabil.”

    “Alhamdulillah, yang mendapat voucher shalat dzuha hari ini adalah mbak Shafiyya dan mas Nares, selamat ya buat mbak Shafiyya dan mas Nares, semoga teman-teman yang lain bisa tertib seperti mbak Shafiyya dan mas Nares.”

    “Alhamdulillah, yang mendapat voucher shalat dzuhur hari ini adalah mbak Kayla dan mas Ananda, selamat ya buat mbak Kayla dan mas Ananda, semoga teman-teman yang lain bisa tertib seperti mbak Kayla dan mas Ananda.”

    Begitulah, setiap hari aku umumkan siapa saja yang mendapat hadiah voucher.Kadang-kadang ada yang protes juga .

    “Ustadzah..., aku sudah tertib kok nggak dapat voucher?” protes Dita.

    Kujawab penuh sayang,” Karena waktu shalat tadi, mbak Dita lihat ke Ustadzah sebentar, betul?”

    “Iya sih,” jawab Dita malu- malu.

    “Nanti lebih khusyu’ lagi ya, mbak Dita,” bujukku pada Dita.

    Ditapun mengangguk penuh janji nanti akan shalat lebih tertib lagi.

                Di ruang Al Qur’an center aku mendapat pertanyaan dari ustadzah lain.

    “Ustadzah..., kok bisa tadi anak kelas satu shalat khusyu banget, sampai merem-merem gitu, dikasih apa sih?” tanya beliau.

    “Dikasih hadiah voucher, Ustadzah. Alhamdulillah anak-anak jadi khusyu’ shalatnya. Bagi yang belum bisa melihat tempat sujud, boleh merem supaya tidak terganggu,” jawabku.

    “Oalah..., dapat hadiah voucher, pantesan semangat lomba khusyu’ tadi,” kata ustadzah tersebut.

    Alhamdulillah, semenjak aku berikan hadiah voucher tiap shalat, anak-anak bersemangat shalat dengan khusyuk. MasyaAllah, ternyata fungsi voucher di esluha bukan hanya sebagai alat tukar, tapi juga bisa untuk menertibkan shalat. Hanya dalam waktu 2 hari, anak-anak bisa terkondisi shalat dengan tertib. Lebih cepat dari 2 angkatan sebelumnya yang membutuhkan waktu sekitar sebulan. Sungguh, ini adalah hadiah haji terindah dari anak-anak siswa kelas 1D untukku. Menyaksikan kalian shalat dengan tertib semua, rasanya semua akumulasi lelah saat haji hilang, dan penyakit batukku serasa langsung sembuh. Subhanallah. Tak henti aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah membimbingku, memberikan kesabaran dan kekuatan untuk mengarahkan anak- anak menjadi tertib shalatnya.

    Terimakasih sayang...., terimakasih anak-anak kelas 1D, kalian telah memberi kesempatan ustadzah untuk berpahala jariyah. Pahala yang terus mengalir. Selama kalian shalat dengan tertib, maka pahala akan terus mengalir kepada kami para guru dan ayah bunda kalian. Pertahankan ketertiban shalat kalian sampai akhir hayat ya.....

     

    Hikmah:

    1. Di dalam dunia pendidikan dikenal ada istilah reward (hadiah) dan punishment (hukuman). Hadiah tidak harus berupa materi, hadiah bisa berupa pujian, pelukan, dan acungan jempol. Ternyata lebih manjur hadiah daripada hukuman. Aku sudah membuktikannya.
    2. Kerjasama yang baik antara guru dan orang tua sangat diperlukan untuk keberhasilan pendidikan anak.

     

    Wallahu a’lam bishshawab.

     

    NB: Nama siswa yang belum tertib adalah nama samaran, bukan nama siswa sebenarnya.

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks