• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • TIPS ANAK SUKA IKUT PENGAJIAN

    TIPS ANAK SUKA IKUT PENGAJIAN

     

    Oleh: Nasiroh, S.Pd.SD.

     

                Aku ibu rumah tangga biasa dengan 6 anak. Selain sebagai ibu rumah tangga, aku juga nyambi ngajar di sebuah sekolah di kotaku. Alhamdulillah aku juga punya 2 kelompok pengajian yang setiap pekan rutin ketemuan. Disamping itu, aku juga punya komunitas pengajian yang rutin ketemuan tiap pekan untuk ngecharge ruhiyahku. Jadi dalam sepekan aku keluar sore sampai menjelang maghrib 4 kali. Sebagai ibu rumah tangga dan guru di sekolah swasta serta aktifitas pengajianku itu, membuat waktu untuk keluarga terbatas. Namun kami berdua, aku dan suamiku sepakat untuk tetap aktif dakwah meski dengan segala Keterbatasan yang kami miliki, tanpa mengurangi hak anak untuk mendapat perhatian dan kasih sayang. Salah satunya adalah pemanfaatan momen pengajian yang aku miliki.

                Bagi orang dewasa, aktifitas pengajian adalah sebuah aktifitas yang menyenangkan, karena memang itu kebutuhan. Karena banyak faktor, orang dewasa terpaksa mengajak anak-anak ikut ke forum pengajian orang dewasa. Orang dewasa kadang-kadang kurang memperhatikan apa yang akan dilakukan anak-anaknya ketika ikut pengajian, karena pengajian orang dewasa adalah aktifitas yang sangat membosankan bagi anak-anak. Kalau pengajiannya memang dirancang untuk anak-anak lain lagi ceritanya, biasanya anak- anak juga menikmati. Beberapa kali aku mengikuti pengajian di berbagai tempat, hampir selalu membuat anak-anak bosan sehingga mereka rewel dan mencari perhatian orang tuanya. Hal ini membuat banyak orang tua tidak nyaman dan ujung-ujungnya marah kepada anak.

              Aku pernah melihat ada seorang ibu yang tega mencubit anaknya di sebuah pengajian karena anaknya sudah tidak betah. Anak tersebut semula berbisik-bisik kepada ibunya. Entah apa yang dibisikkan aku tak tahu pasti. Ibunyapun membalas bisikan anaknya. Namun bisikan sang ibu tidak membuat anak berhenti berbisik. Aksi bisak bisik berlangsung beberapa termin sampai akhirnya pecahlah tangis si anak. Tidak tahan mendengar tangisan sang anak, sang ibu kemudian mencubitnya. Semakin ramailah suasana pengajian, sang ibu teriak-teriak karena marah, sang anak menjerit-jerit mencari perhatian ibunya. Bubar deh. Pengajianpun rehat, berhenti sejenak untuk melerai pertikaian ibu dan anak itu. Usut punya usut, ternyata sang anak hanya minta dibelikan balon, tapi ibunya tak mengijinkan karena sudah sering beli balon. Begitulah suasana salah satu forum pengajian orang dewasa yang ada peserta anak-anaknya.

                Berbeda halnya dengan anakku yang nomer 3 yang waktu itu masih TK, Mufid namanya. Suatu hari dia bertanya

    ”Ummi.....kapan ngaji lagi ke rumah mas Amar?”

    Kujawab, ”Besok Kamis, Mas.”

    Anakku bertanya lagi,”Kamis itu berapa hari lagi Ummi?”

    Waktu itu masih hari Ahad, jadi kujawab,”4 hari lagi, Mas”

    Mufid bilang, ”Yah, 4 hari lagi, masih lama........”

    ”Sabar Mas, besok Kamis mau dibawain jajan apa, Mas?”

    Kemudian anakku menyebutkan beberapa jajanan kesukaannya,

    Akupun menjawab,”Ya, insyaAllah, besok Kamis Ummi beliin.”

               Malam Kamis, aku mulai menyiapkan hal-hal yang aku butuhkan untuk kedua anakku yang akan kuajak pengajian, si kecil Zahra(5 bulan) dan kakaknya, Mufid(4 tahun). Untuk si kecil Zahra kusiapkan pampers, tisu basah untuk cebok kalau BAK atau BAB, dan biskuit untuk bayi. Untuk Mufid kusiapkan snack kesukaan berupa wafer dan biskuit, susu kotak, buku gambar, krayon serta mobil-mobilan kesukaannya. Kupikir, kalau nanti bekal makanan kesukaannya sudah habis, dia bisa main mobil-mobilan, kalau dia bosan bermain mobil-mobilan dia bisa menggambar atau mewarnai. Tak lupa juga kubawakan pakaian ganti, supaya nanti sampai rumah tak perlu repot-repot mandi. Biasanya, pulang sekolah kalau langsung ngaji, anakku ngantuk dan bahkan kadang tidur sampai keesokan harinya. Setelah semuanya beres, barulah aku tidur.

    Kamispun tiba. Sepulang ngajar,aku jemput anakku ke sekolahnya naik becak(waktu itu belum jamannya gocar atau grab). Begitu melihatku, anakku tampak riang gembira.

    ”Ummi ..., nggak pulang kan? Ngaji ke rumah Mas Ammar kan?”

    Anakku langsung memberondongku dengan pertanyaannya.

    Kujawab,”Iya,ini jajanan kesukaan mas Mufid sudah Ummi beliin, nanti dibagi ya sama teman- teman.”

    Anakkupun tampak semakin semangat. Aku sengaja beli jajan lebih supaya nanti anakku bisa berbagi dengan teman-temannya. Kebetulan rumah Ammar tidak terlalu jauh, sekitar 1 km.Sepanjang perjalanan ke rumah Ammar, Mufid tampak berseri-seri.

                Tiba di rumah Ammar, ternyata ibunya Ammar sudah menyiapkan hidangan istimewa untuk anak- anak. Beliau menyambut anakku dengan hangat:

    ”Dik Mufid, sudah dtunggu mas Ammar tu di dalam, ayo masuk aja!”

    Anakkupun bergegas masuk. Bersama Ammar dan anak- anak teman ngajiku yang lain, anak-anak bermain dengan riang. Sesekali terdengar gelak tawa mereka dari ruang tempat kami ngaji. Setelah kami selesai ngaji, rupanya anak-anak belum selesai bermain, dengan terpaksa aku ajak anakku pulang yang sebenarnya belum mau pulang karena masih asyik bermain.

                Sepanjang perjalanan pulang anakku tak henti berceloteh tentang apa yang telah dilakukan bersama teman-temannya di rumah mas Ammar tadi. Mulai dari tadi bermain apa, maem apa, mandinya bagaimana dan lain lain. Kata anakku,“ Ummi, aku tadi main lego lho, aku tadi bikin jembatan.” Kujawab,”Hmmmm, Mas Mufid pinter.”

    “Tadi maemnya enak Ummi, besok masak ayam seperti di rumah mas Ammar ya.”

    ”Ayamnya emang gimana Mas?”

    “Itu yang kriuk kriuk enak Ummi,”

    “Ooooo… itu ayam krispi. Ya kapan-kapan Ummi masakin, insyaAllah.”

    Anakku terus berkicau. “Tadi, teman- teman juga suka dengan jajan yang kubawa. Ummi besok bawa lebih banyak lagi ya”

    “Alhamdulillah, insyaAllah Ummi besok bawa lebih banyak lagi.”

    “Ummi, tadi aku juga mewarnai gambar mobil, nanti diliat ya di rumah”.

    Dan masih banyak lagi, sepanjang perjalanan kami berbincang-bincang sampai akhirnya dia kecapekan dan ketiduran. Sampai rumah menjelang maghrib, anakku sudah lelap dalam mimpinya. Suamikupun menggendongnya dengan sayang.

                Anakku yang pertama (Falihah, kelas 4 SD) dan yang kedua(Hadfi, kelas 1 SD) berebut menyambutku untuk bersalaman. “Ummi, aku salim pertama ...,”kata kedua anakku sambil berlari berebut untuk salaman. Sementara si kecil Zahra masih kugendong dan tetap terlelap dalam tidurnya. Setelah aku mandi, kamipun shalat maghrib berjamaah. Setelah shalat dan tadarus si sulung Falihah bertanya.

    ”Ummi, besok ada pengajian nggak di rumah?”

    Aku menjawabnya,” Nggak, Mbak, memangnya kenapa?”

    Hadfi yang menjawab,” Besok kalau ada pengajian di rumah snacknya apa, Ummi?”

    Akupun tersenyum.”Mbak Hadfi pingin apa?” tanyaku.

             Aku memang biasa memberi suguhan kepada murid-murid atau binaanku dengan hidangan yang agak istimewa dibandingkan yang aku hidangkan sehari-hari. Apalagi kalau pas ada rejeki lebih, tentu hidangan semakin banyak dan semakin istimewa. Alhamdulillah suamiku sangat setuju dan mendukungnya. Hari pengajian kujadikan hari yang istimewa bagi keluargaku. Aku punya kelompok pengajian ibu-ibu yang pernah suatu ketika jumlah anak-anak lebih banyak daripada ibu-ibunya. Waktu itu ibunya hanya 8, namun anaknya ada 12. Jadi aku lobi suamiku supaya jadi pengasuh anak- anak tiap hari Rabu karena biasanya anak-anaknya banyak. Suamikupun tak keberatan. Di kalangan teman-teman, suamiku memang dikenal penyayang anak. Pernah suatu ketika, suami di sebuah lembaga yang dekat sebuah TK. Ada salah satu anak TK yang menangis. Beberapa ibu guru mencoba menghibur dan melerai tangisnya, namun belum berhasil. Maka suamikupun mencoba menghibur anak tersebut. Subhanallah......cep!!!!! Anak itu langsung nempel, nggak nangis dan ceria. Kata bu gurunya, ”Bapak ada magnetnya ya, anak itu kok langsung lengket sama Bapak.”

            Begitulah ketika aku minta tolong suami untuk menjadi pengawas atau apalah namanya, bagi anak- anak murid pengajianku, beliau tidak keberatan. Begitu juga dengan kedua putriku, mereka senang bermain dengan adik-adik kecil. Sebagian besar anak-anak memang usianya lebih muda daripada kedua putriku ini.

    Maka pertanyaan putri keduakupun kujawab.

    “Pengajian di rumah kan baru Rabu kemarin Mbak Hadfi, jadi masih sepekan lagi ya. Mbak Hadfi pingin snack apa?”

    Maka Hadfipun menyebutkan beberapa snack kesukaannya.

    “Ya, insyaAllah besok Ummi beliin.”

             Setelah anakku 6, otomatis yang kuajak pengajian adalah anakku yang kelima(Yusuf) dan yang keenam (Nayli). Persiapan yang kulakukanpun tak jauh berbeda. Kedua anakku ini paling suka kalau aku ajak pengajian ke rumah salah seorang binaanku, Tante Ina namanya. Sambutan Tante Ina terhadap anak- anak juga luar biasa. hampir semua isi kulkas dikeluarkan. Aneka minuman, buah-buahan dan makanan. Selain itu, kucing anggora Tante Ina banyak, lucu dan imut. Si bungsu Nayli suka banget sama kucing. Oleh karena itu, Nayli kalau sudah malam Rabu biasanya merengek,” Ummi, besok aku ikut ke Tante Ina, ya.” Suasana di rumah Tante Ina yang menyenangkan dan jajanan kesukaannya ternyata membuat anakku seneng ikut pengajian. Anak-anak Tante Ina sudah besar-besar, yang sulung sudah menikah, yang kedua sudah kerja, yang ketiga sudah kuliah. Ketiga anak Tante Ina semuanya ramah, terutama yang nomer 2, mbak Putri namanya. Suatu hari Tante Ina cerita kalau mbak Putri seneng sama Yusuf dan Nayli.

    ”Mama, aku suka sama Yusuf dan Nayli, anaknya manut-manut dan anteng, nggakpethakilan kayak anaknya bu itu(sambil menyebut nama seorang teman Tante Ina).”

    Aku waktu itu berkomentar,”Alhamdulillah, saya memang ada perjanjian sama anak, kalau mau ikut ngaji harus shalih”.

              Kini, anak-anakku sudah tak ada lagi yang nguntit aku kalau aku pengajian, mereka sudah punya komunitas sendiri. Aku sangat bersyukur, anak-anakku tak ada yang aneh-aneh, mereka semua lurus-lurus saja.

    Alhamdulillah, aktifitas pengajianku menjadi aktifitas yang dirindukan anak-anakku. Apapun motif mereka, ternyata pengalaman ikut pengajian ummi waktu kecil dengan suasana yang menyenangkan, dan membersamai pengajian adik-adik kecil menjadi kenangan yang mengesankan bagi anak-anakku.

            Aku prihatin pada beberapa teman ngajiku yang pernah curhat anaknya nggak mau ngaji atau nggak mau seperti ayah ibunya. Ayah ibunya yang aktifis dakwah di luar dan sukses ternyata anaknya tidak mau mengikuti jejak orang tuanya sebagai juru dakwah. Padahal sesungguhnya, menurutku,yang paling berhak menerima dakwah kita adalah anak-anak biologis kita. Jadi aktifitas yang banyak tidak menghalangi tercurahnya kasih sayang orang tua kepada anaknya. Persiapan yang matang dan perbekalan yang cukup saat anak diajak pengajian adalah salah satu wujud kasih sayang dan perhatian orang tua kepada sang buah hati.

           Kesimpulannya, tips supaya anak kita suka ikut diajak ke pengajian adalah sebagai berikut.

    1. Jika hendak mengajak anak pengajian, persiapkan dengan matang seperti pakaian ganti, makanan dan mainan kesukaan supaya anak tidak bosan.
    2. Jika di rumah akan diadakan pengajian, libatkan seluruh anggota keluarga, anak-anak diberi kegiatan alternatif supaya pengajian tidak terganggu dan anak-anak merasa senang.
    3. Jika memang mengharuskan anak ikut, sebaiknya ada penitipan anak/hadonah supaya orang tua bisa ngaji dengan maksimal dan anak tidak terdzalimi.

    Semoga bermanfaat.....

     

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks