• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • Bangunan Seperti Apa Keluarga Kita?

    Bangunan Seperti Apa Keluarga Kita?

    Oleh: @rochma_yulika

     

     

     

    Mendapati bahagia dalam berkeluarga menjadi harapan kita semua. Sedari awal Allah sudah mengisyaratkan bahwa kita hidup akan bertemu pasangan. Sangat jelas Al Quran membahas tentang setiap kita akan dipertemukan dengan pasangan masing-masing. Dalam surat Ar Ruum ayat 21 berbunyi:

    وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

    “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

    Dorongan untuk mendapatkan pasangan adalah fitrah yang sudah Allah berikan dari lahir. Sehingga ketika sudah mulai remaja dan dewasa dorongan itu semakin kuat. Bahkan pada usia yang semakin menua, kegelisahan pun hadir sembari bertanya dan meminta tentang jodohnya. Harapan itu harus ada. Terus meminta kepada Allah dan akan ada saat terbaik semuanya terwujud. Semoga.

    Memasuki bahtera rumah tangga tak hanya tawa bahagia yang bisa kita nikmati namun juga peristiwa pedih yang kita lalui mampu menyesakkan hati. Tak jarang bola mata kita membulat karena Allah beri banyak karunia namun adakalanya mata pun basah dan sembab karena jiwa merasakan keperihannya.

    Rasulullah pun menjelaskan dalam sabdanya:

    “Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap Muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya,” (HR Bukhari).

    Percayalah setiap skenario yang sudah Allah tetapkan akan berakhir dengan banyak keajaiban bila taqwa menjadi pakaian kita. Sudah menjadi tabiat kehidupan jika kita pasti akan bersua dengan kesulitan dan rintangan selain takdir indah yang kita terima. Maka membangun rumah tangga harus ada ilmunya. Ilmu didapat dari belajar dengan para guru peradaban dan setelah menikah tak bosan belajar dengan pasangan. Belajar menata diri hingga mampu raih prestasi.

    Lantas apa yang harus kita lakukan untuk mengawali keberkahan hidup dalam keluarga? Tak hanya bercita meraih sukses di dunia tapi sama-sama memiliki visi dan misi ukhrowi. Berikut adalah hal-hal yang bisa kita lakukan untuk membangun keberkahan keluarga kita.

        1. Menjadikan Al Quran sebagai pedoman karena Al Qurat sarat dengan pesan kehidupan.

         Banyak pertanyaan yang bisa terjawab dengan Al Quran.  Dalam surat Al Baqarah ayat 2 dinyatakan bahwa Al Quran sebagai petunjuk bagi

         orang yang bertaqwa.      

                          ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ               

    “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” 

         2. Menjadikan keluarga Rasulullah sebagai teladan.

    Keluarga terbaik adalah keluarga Rasulullah. Bagaimana beliau memerlakukan istri dan anggota keluarganya, hal ini menjadi cermin bagi kita semua. Bermula dari ayah yang shalih akan membawa pengaruh yang sangat baik untuk semua anggota keluarganya. Sehingga lahirlah karakter positif yang membuat keluarga makin berkah.

    Allah telah memperlihatkan tipe rumah tangga teladan lewat utusan-Nya Rasulullah SAW. Sebagai umatnya kita diwajibkan untuk beruswah (mengambil contoh) kepada beliau dalam segala hal, termasuk rumah tangga. Hal ini sebagaimana telah diperintahkan Allah dalam kitab-Nya yang mulia

    "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah, suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan hari kiamat. Dan dia banyak menyebut nama Allah" (QS. 33: 21).

    Rasulullah membina rumah tangganya berlandaskan taqwa dan taat sepenuhnya kepada wahyu. Suatu ketika para istri Rasul mengadakan 'aksi' untuk meminta kenaikan uang 'belanja'. Menghadapi ulah istrinya itu Rasul mendiamkan mereka selama sebulan penuh sambil menunggu wahyu Allah. Akhirnya wahyu Allah pun datang,

    "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu: "Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki keridhoan Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan kampung akhirat, maka Allah menyediakan bagi siapa ysng berbuat baik diantaramu pahala yang besar". (QS. 33: 28-29).

       3. Akhlak mulia sebagai perilaku keseharian.

    Mengapa akhlak menjadi hal utama? Karena kita ketahui bersama bahwa Rasulullah diutus oleh Allah untuk menjadi rahmat.

    "Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam" (QS. Al-anbiya 21/107).

        Dalam satu riwayat Hadis Sahih:                             اِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأ ُتَمِّمَا مَكَارِمَ اْلأَحْلاَ قِ 

    "Sesungguhya aku diutus untuk meyempurnakan akhlak yang mulia." (HR Bukhari).

    Sifat kasih sayang merupakan bagian dari akhlak terpuji. Kita bayangkan saja bila tak ada kasih sayang dalam keluarga yang terjadi adalah kekeruhan suasana sehingga kenyamanan dalam rumah tangga tak lagi ada. Maka sangat penting berakhlak mulia dalam kebersamaan terutama dalam lingkung yang kecil yakni keluarga

         4. Syariat yang jadi ukuran.

    Sedari pagi hingga pagi lagi tatanan keluarga muslim. Bila keluarga memakai takaran syariat dalam menjalaninya maka akan lebih mudah membangun keluarga sakinah. Semua anggota keluarga paham rambu-rambu yang harus ditaati. Dan bila melakukan pelanggaran akan berakibat buruk pada dirinya terutama dosa yang akan dibawa hingga hari kebangkitan. Sebenarnya aturan sudah Allah berfungsi untuk mengatur hidup manusia. Hanya saja mengapa masalah itu terjadi tak lain karena kesalahan atau pelanggaran terhadap tatanan yang sudah ditentukan. Allah Ta’ala berfirman:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

    “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu” (Qs. Muhammad: 33).

    وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

    “Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” (Qs. At Taghabun: 12).

    Sangat jelas dalam Al Quran bahwa kita diperintahkan untuk taat. Dalam bermuamalah dengan keluarga sekali pun ada aturan yang baku bagaimana sikap kita kepada pasangan dan anak. Mari menjaga ketaqwaan, niscaya kebahagiaan akan bertandang dalam rumah tangga kita.

    Dari Ibnu Mas'ud RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ''Hendaklah kalian selalu melakukan kebenaran, karena kebenaran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunut ke surga. Jika seseorang selalu berbuat benar dan bersungguh dengan kebenaran, ia akan ditulis di sisi Allah swt sebagai orang yang sangat benar. Jauhkanlah dirimu dari bohong, karena bohong akan menuntun kepada kedurhakaan, dan durhaka itu menuntun ke neraka. Jika seseorang selalu bohong dan bersungguh-sungguh dengan kebohongan, ia akan ditulis di sisi Allah swt sebagai orang yang sangat pembohong.'' Hadis muttafaqun'alaih.

        5. Memiliki orientasi keakhiratan.

    Muara dari kehidupan tak lain adalah akhirat dan dalam Al Quran dikatakan bahwa akhirat lebih utama dari dunia. Jika membangun keluarga ada orientasi yang jelas yakni shalatku, ibadahku,hidupku dan matiku hanya untuk Allah maka setiap masalah akan diusahakan untuk diselesaikan dan terus berusaha serta tak mudah putus asa.  Allah berfirman,

    جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ

    “(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra‘du: 23)

    Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini bahwa Allah akan mengumpulkan seseorang bersama keluarganya, orang tua, istri dan anak-cucunya di surga. Ini adalah dalil satu keluarga bisa masuk surga bersama. Beliau berkata,

    يجمع بينهم وبين أحبابهم فيها من الآباء والأهلين والأبناء ، ممن هو صالح لدخول الجنة من المؤمنين; لتقر أعينهم بهم ، حتى إنه ترفع درجة الأدنى إلى درجة الأعلى ، من غير تنقيص لذلك الأعلى عن درجته

    “Allah mengumpulkan mereka dengan orang-orang yang mereka cintai di dalam surga yaitu orang tua, istri dan anak keturunan mereka yang mukmin dan layak masuk surga. Sampai-sampai, Allah mengangkat derajat yang rendah menjadi tinggi tanpa mengurangi derajat keluarga yang tinggi (agar berkumpul di dalam surga yang sama derajatnya).”

     

         6. Pentingnya memahami antara hak dan kewajiban pasangan.

    Sebagai suami harus bisa menjalankan sebaik-baiknya kewajiban yang dipikul juga memenuhi hal istri. Karena itu kunci kebahagiaan begitu juga sebaliknya. Dikisahkan dari Mu’awiyah Al Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ

    “Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah” (HR. Abu Daud no. 2142. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

    Pemenuhan antara hak dan kewajiban dalam rumah tangga akan membawa pada kehidupan yang harmonis karena ada usaha untuk saling membahagiakan.

         7. Menjadi pelopor kebaikan.

    Tak mudah untuk menjadi pelopor kebaikan karena segalanya akan mudah kita lakukan bila kita juga menanam kebaikan pada diri sendiri. Bagaimana mungkin ingin membagi buah sementara dirinya tak bisa menghasilkan buah? Maka sangat sepakat dengan nasihat Syekh Mustafa Masyhur, ”Tumbuh suburkan Islam pada diri kita niscaya akan menyubur di sekitar kita.” Maka jangan berhenti belajar menjadi orang baik. Selalu evaluasi diri apalagi dalam membangun keluarga, tentu banyak hal yang butuh penyesuaian dan penyelesaian dari masalah yang kita jumpai.

    Barang siapa melakukan perbuatan baik dalam Islam, maka dia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang yang ikut melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang melakukan perbuatan buruk dalam Islam, maka dia akan mendapatkan dosa dari perbuatannya dan dosa orang yang ikut melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun" (HR Muslim).

    Kepeloporan harus dilandasi keikhlasan dan dimulai dari diri sendiri. Rasulullah SAW dan para sahabat adalah pelopor dalam kebaikan. Berbagai sunnah hasanah (tradisi yang baik) yang ada sekarang ini, dimulai oleh mereka. Mereka pun memulai sunnah itu dari diri mereka sendiri.

        8. Memiliki ilmu agar hidup tercerahkan.

    Menuntut ilmu perihal yang diwajibkan. Banyak materi bisa kita dapatkan juga nasihat ulama. Apalagi kalau kita mau mengkaji lebih dalam isi dari Al Qur’an juga sunnah Rasulullah. Betapa luas ilmu yang bisa kita pelajari dan banyak contoh permasalahan kehidupan serta penyelesaiannya yang bisa kita jadikan acuan. Jika dipikir berumah tangga tidak ada sekolahnya tapi justru kita akan membutuhkan ilmu tersebut sepanjang hayat. Kita ketahui bersama, menikah itu ibadah yang paling panjang waktunya. Apalagi setiap masalah yang datang belum tentu sama ketika harus menyelesaikannya sehingga ilmu kerumahtanggaan ini harus terus di upgrade.

    Demikianlah 8 hal yang dapat kita lakukan untuk mengawali keberkahan hidup dalam keluarga. Semoga bangunan keluarga yang kita bentuk tak hanya bercita meraih sukses di dunia tapi sama-sama memiliki visi dan misi ukhrowi. Aaamiin…

     

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks