• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • Tour de Museum Kelas Super Esluha (bagian 1)

    Tour de Museum Kelas Super Esluha (bagian 1)

    Ada yang spesial di hari Kamis pada 5 September 2019 bagi kelas 6 SDIT Luqman Al Hakim (Esluha) yang memiliki slogan “SUPER.” Pasalnya pagi itu, meski seluruh siswa tetap masuk jam 6, mereka tetap bergembira karena setelahnya akan melakukan kunjungan edukatif berupa kunjungan ke beberapa museum di Yogyakarta.

    Agenda ke luar sekolah tetap diawali dengan sholat duha agar perjalanan nantinya mendapatkan banyak keberkahan dan hikmah. Dengan menggunakan 6 armada bus, perjalanan tour de museum pertama kali adalah museum Sasmitaloka atau yang lebih dikenal sebagai Museum Jenderal Sudirman.

     

    Museum Sasmitaloka Pangsar Sudirman

    Museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman terletak di Jalan Bintaran Wetan No.3 Yogyakarta. Kata sasmita berarti tenang, loka berarti tempat. Museum Sasmitaloka dahulu pernah menjadi rumah dinas Jenderal Sudirman selama 3 tahun. Sebelumnya tempat tersebut juga pernah digunakan sebagai rumah dinas Mr. Wijnchenck, seorang pejabat keuangan Puro Pakualaman.

    Seluruh siswa beserta ustadz ustadzah kelas 6 tiba di museum pada pukul setengah 9 pagi dan segera disambut dengan hangat oleh pihak pengelola museum. Sebelum berkeliling museum, Bapak Pujiono dari pihak pengelola museum memberikan pengantar berupa sejarah singkat museum dan riwayat hidup Panglima Besar Jenderal Sudirman dengan penuh semangat.

    Sudirman lahir di Purbalingga, Jawa tengah pada 24 Januari 1916. Akan tetapi sejak kecil beliau lebih banyak tinggal bersama pamannya yang bernama Raden Cokrosunaryo di Cilacap. Sudirman aktif di Muhammadiyah dan kepanduan Hizbul Wathon. Setelah menyelesaikan sekolah HIK di Solo, Sudirman muda mengabdi menjadi guru dan kepala sekolah di Cilacap.

    Di saat masa penjajahan Jepang, Sudirman mengikuti latihan calon perwira PETA (Pembela Tanah Air) di Bogor. Sudirman pun aktif dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia saat pasukan Belanda datang untuk kembali menjajah Indonesia. Panglima besar Jenderal Sudirman mengikrarkan sumpah akan menjaga kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia hingga titik darah terakhir sehingga tetap memimpin perang gerilya meski ditandu oleh para pengawalnya. Karena sakitnya, Sang Jenderal yang senantiasa menjaga wudhu wafat pada usia 34 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara (Semaki) Yogyakarta pada 29 Januari 1950.

    Adapun koleksi museum yang terdapat di gedung utama antara lain ruang tamu, ruang santai, ruang kerja, ruang tidur Pangsar Sudirman, dan ruang tidur putra putri Pangsar Sudirman. Beberapa piagam penghargaan juga tampak pada sudut ruangan. Sebuah papan besar yang bertuliskan riwayat hidup Panglima Besar Sudirman ditempel di sudut ruang utama. Dipajang pula pedang samurai saat Jenderal Sudirman mengikuti pelatihan PETA, senapan, kursi meja keluarga, replika tandu, dan perlengkapan makan.

    Di halaman depan museum dipajang senjata mesiu. Di sekeliling bangunan utama terdapat ruang Palagan Ambarawa, ruang RS Panti Rapih, ruang koleksi kendaraan, ruang diorama, ruang koleksi pribadi, dan ruang koleksi Gunungkidul dan Sobo.

    Setelah puas berkeliling, siswa putra dan putri bergantian foto bersama di depan ruang utama museum Pangsar Sudirman. Akhirnya sekitar pukul 9.45 rombongan bertolak ke Jalan Parangtritis untuk melanjutkan kunjungannya.

     

    Pesan Moral Pangsar Jenderal Sudirman

    1. Janganlah kamu berbuat seperti sapu yang meninggalkan ikatannya. Sebatang lidi tidak akan berarti apa-apa, tetapi dalam ikatan sapu akan dapat menyapu segala-galanya. (Daidanco Soedirman)
    2. Hendaknya perjuangan kita harus didasarkan atas kesucian, dengan demikian perjuangan kita selalu merupakan perjuangan antara jahat melawan suci, dan kami percaya, bahwa perjuangan suci itu senantiasa mendapatkan pertolongan dari Tuhan. (Pernyataan Pangsar Sudirman pasca pelantikan sebagai panglima besar TKR)
    3. Meskipun kamu mendapat latihan jasmani yang sehebat-hebatnya tidak akan berguna jika kamu mempunyai sifat menyerah! Kepandaian yang bagaimanapun tingginya tidak ada gunanya jika orang itu mempunyai sifat menyerah. Tentara akan hidup sampai akhir zaman, jangan menjadi alat oleh suatu badan atau orang. Tentara akan timbul dan tenggelam bersama-sama negara.

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks