• SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta
  • 0274-542928
  • esluha.sekolahku@gmail.com

BERITA

  • Ahlan wa Sahlan, Muharram

    Ahlan wa Sahlan, Muharram

    Oleh Ustadzah Rita Hidayati S.Pd.

    Muharram merupakan bulan pertama di kalender Hijriah. Bulan sebagai penanda umat muslim memasuki tahun baru hijriah. Tahun hijriyah dimulai pada saat kaum muslimin bersama Rasulullah hijrah atau berpindah dari Makkah ke Madinah. Dan saat ini, kita sudah menginjak tahun 1441H, jarak yang luar biasa dari perjuangan kaum muslim yang berkorban meninggalkan tanah kelahiran, keluarga, harta benda, dan juga segala kepentingan duniawi lainnya demi perkembangan Islam yang lebih baik.

    Muharram merupakan salah satu bulan haram diantara dua belas bulan. Dari HR.Bukhari dan Muslim,”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Satu bulan lagi adalah Rajab.” Atau dalam Q.S At Taubah ayat 36 berikut ini.

    ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

    Ibnu ’Abbas mengatakan,”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci. Melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan,”Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan atau peperangan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” Demikian pendapat Ibnul Jauziy ketika menafsirkan surat At Taubah ayat 36.

    Bulan Muharram sebagai bulan permulaan tahun baru hijriah merupakan salah satu momentum yang tepat untuk perubahan diri menjadi yang lebih baik. Oleh karena itu, ada 3 hal yang dapat dilakukan oleh umat Islam.

    • Senantiasa bangga dengan identitas keislamannya.

    Tahun baru Hijriah mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka marilah kita benar-benar menghijrahkan diri dari segala bentuk keburukan menuju kebaikan, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kejahiliyahan menuju totalitas Islam dan dari kegelapan memperturutkan hawa nafsu menuju cahaya terang keikhlasan dalam menggapai ridha Allah. Hal lain yang bisa dilakukan agar kita lebih bangga dengan semangat hijrah dan keislaman kita adalah dengan lebih mengutamakan penggunaan kalender Hijriyah sebagai salah satu identitas umat pengikut Rasulullah Muhammad saw.

    • Memperbanyak amalan sunnah.

    Banyak ibadah sunnah yang mengambil waktu pada bulan Muharram. Misalnya, puasa sunnah pada 9 dan 10 Muharram atau `Asyura. Dalam H.R Muslim, puasa `Asyura itu dapat menghapus (dosa-dosa) satu tahun yang lalu.

    ”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

    • Mengambil hikmah dari setiap kejadian.

    Fenomena pergantian waktu baik siang-malam, hari, pekan, bulan, tahun dan seterusnya sebagai salah satu tanda-tanda kebesaran Allah dapat dimanfaatkan untuk banyak bertafakkur dan berdzikir mengingat muroqobah (pengawasan) Allah, dan bukan untuk merayakannya dengan cara-cara yang penuh dengan kesia-siaan, seperti yang biasa kita saksikan pada fenomena penyambutan tahun baru yang lain.

    Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam tidak memberikan contoh aktivitas atau praktik ritual tertentu dalam menyambut pergantian tahun. Namun tidak ada salahnya jika momentum ini digunakan untuk hal-hal bermanfaat yang tidak bersifat ritual khusus, seperti diambil ibrah (hikmah) dan pelajaran dari peristiwa hijrah. Di samping itu juga dapat dimanfaatkan untuk muhasabah dan instropeksi diri karena setiap muslim harus selalu melakukan muhasabah diri. Umar bin Al Khatthab radhiyallahu ’anhu berkata:”Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amalmu sebelum kamu ditimbang nanti dan bersiap-siaplah untuk hari menghadap yang paling besar (hari menghadap Allah).”

    Semoga, tahun 1441 Hijriah dan tahun-tahun berikutnya, semakin membawa kita untuk senantiasa semangat memperbaiki diri dan menjadikan kita sebagai pribadi-pribadi muslim yang lebih baik.

     

     

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks